Poros Informasi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, dengan sentimen negatif yang cukup terasa. Pada penutupan sesi I, indeks acuan pasar modal Indonesia ini tercatat melemah 0,38 persen, memarkir diri di level 8.259. Pelemahan ini mengindikasikan adanya tekanan jual yang dominan di tengah dinamika pasar global dan domestik.
Data perdagangan menunjukkan aktivitas yang cukup ramai, dengan total volume transaksi mencapai 25,1 miliar lembar saham. Nilai transaksi yang dibukukan juga signifikan, yakni sebesar Rp14,2 triliun. Namun, di balik angka-angka tersebut, sentimen pasar cenderung bearish. Sebanyak 386 saham mengalami pelemahan, jauh melampaui 300 saham yang berhasil menguat, sementara 272 saham lainnya terpantau stagnan tanpa perubahan harga. Ini mencerminkan pasar yang kurang bergairah di paruh pertama hari ini, di mana investor cenderung melakukan aksi profit taking atau menahan diri dari pembelian agresif.

Dinamika Indeks Utama dan Sektor Penopang
Di tengah koreksi IHSG, beberapa indeks utama lainnya menunjukkan pergerakan yang bervariasi, memberikan gambaran selektivitas investor. Indeks LQ45, yang berisi 45 saham paling likuid, turut terkoreksi 0,43 persen, sejalan dengan pelemahan IHSG. Namun, menariknya, indeks IDX30 justru mampu menguat tipis 0,01 persen, begitu pula indeks MNC36 yang naik 0,02 persen, dan indeks syariah JII yang mencatatkan penguatan 0,16 persen. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa meskipun pasar secara umum tertekan, ada saham-saham berkapitalisasi besar atau berprinsip syariah tertentu yang masih menjadi incaran investor, mungkin karena fundamental yang kuat atau prospek bisnis yang lebih menjanjikan.
Secara sektoral, pergerakan juga menunjukkan pola yang kontras. Beberapa sektor berhasil menjadi penopang dan mencatatkan penguatan di sesi ini, antara lain sektor energi, properti, bahan baku, dan transportasi industri. Kinerja positif ini bisa jadi didukung oleh sentimen harga komoditas global yang membaik, prospek pemulihan sektor riil, atau ekspektasi terhadap kebijakan pemerintah yang mendukung sektor-sektor tersebut.
Sebaliknya, mayoritas sektor justru tertekan dan kompak melemah. Sektor konsumer non siklikal, keuangan, konsumer siklikal, industri, infrastruktur, teknologi, dan kesehatan menjadi deretan sektor yang paling terpukul. Pelemahan ini kemungkinan dipicu oleh kekhawatiran inflasi yang masih membayangi, potensi kenaikan suku bunga, atau aksi jual setelah kenaikan yang signifikan di periode sebelumnya. Sektor keuangan, misalnya, mungkin menghadapi tantangan dari tekanan margin atau peningkatan risiko kredit.
Menganalisis Pergerakan Saham Unggulan
Di antara saham-saham yang berhasil mencuri perhatian dengan kenaikan signifikan dan menjadi top gainers di sesi I, terdapat PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI), PT Leyand Internasional Tbk (LAPD), dan PT Trimuda Nuansa Citra Tbk (TNCA). Kenaikan harga saham-saham ini seringkali didorong oleh faktor-faktor spesifik perusahaan, seperti pengumuman kinerja positif, aksi korporasi strategis, atau spekulasi investor yang memicu peningkatan volume transaksi secara drastis.
Pelemahan IHSG di sesi pertama ini menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar untuk lebih cermat dalam memantau pergerakan dan sentimen. Meskipun tekanan jual cukup dominan, adanya sektor dan indeks tertentu yang mampu bertahan menunjukkan bahwa peluang investasi masih terbuka, namun dengan seleksi yang lebih ketat dan analisis fundamental yang mendalam. Investor diharapkan untuk tetap berhati-hati dan mempertimbangkan strategi yang tepat menjelang sesi perdagangan kedua.






