Harta Karun Hijau RI: 83 Juta Ton Biomassa Siap Jadi Energi Masa Depan

Renita

Harta Karun Hijau RI: 83 Juta Ton Biomassa Siap Jadi Energi Masa Depan

Poros Informasi – Indonesia tengah menatap masa depan energi yang lebih bersih melalui optimalisasi sumber daya alam domestik. Potensi biomassa yang melimpah, yang diperkirakan mencapai 83,4 juta ton per tahun, kini mulai dilirik sebagai bahan baku utama pengembangan biohidrogen. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya diversifikasi energi nasional guna menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil serta mengurangi beban impor energi.

Diversifikasi Energi Melalui Ekosistem Bioenergi

Harta Karun Hijau RI: 83 Juta Ton Biomassa Siap Jadi Energi Masa Depan
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengungkapkan bahwa kekayaan sumber daya biomassa di tanah air sangat beragam. Mulai dari limbah pertanian, residu kayu, sekam padi, hingga sisa-sisa agroindustri dapat dikonversi menjadi energi yang lebih ramah lingkungan.

"Kami sedang membangun ekosistem biomassa, ekosistem CBG (Compressed Biomethane Gas), hingga ekosistem hidrogen. Tujuannya jelas, yaitu memanfaatkan energi domestik secara maksimal dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil serta impor," ujar Hokkop dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Pemetaan Potensi: Sumatera Memegang Peran Kunci

Berdasarkan data pemetaan yang dilakukan oleh PLN EPI, distribusi potensi biomassa di Indonesia tersebar di beberapa wilayah utama. Pulau Sumatera menjadi kontributor terbesar dengan potensi mencapai 42,8 juta ton per tahun. Disusul oleh Kalimantan dengan 18,9 juta ton, dan Pulau Jawa dengan 13,1 juta ton.

Namun, ada fakta menarik yang perlu menjadi perhatian serius bagi para pelaku industri energi. Dari total potensi tersebut, tercatat sekitar 60,6 juta ton biomassa yang hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Meski angka tersebut terlihat sangat menjanjikan, Hokkop menekankan bahwa data ini masih bersifat indikatif. Perlu dilakukan kajian lebih mendalam terkait aspek teknis, kelayakan ekonomi, aksesibilitas lokasi, serta kesiapan rantai pasok sebelum proyek skala besar dijalankan.

Tantangan Komersialisasi Biohidrogen

Pengembangan biohidrogen melalui proses gasifikasi biomassa menjadi salah satu fokus utama. Dalam prosesnya, biomassa diubah menjadi syngas (gas sintesis), yang kemudian dimurnikan menjadi hidrogen dengan tingkat kemurnian tinggi. Produk ini memiliki nilai ekonomi tinggi, baik untuk kebutuhan industri maupun sebagai bagian dari rantai pasok energi rendah karbon global.

Namun, perjalanan menuju skala komersial tidaklah instan. Selain ketersediaan bahan baku dan kecanggihan teknologi, terdapat beberapa variabel krusial yang harus dibenahi agar sektor ini dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Urgensi Regulasi dan Kepastian Pasar

Hokkop menggarisbawahi bahwa keberhasilan pengembangan biohidrogen sangat bergantung pada empat pilar utama: kepastian regulasi, kelayakan ekonomi, minat investasi, dan terbentuknya pasar yang stabil.

Berbeda dengan program cofiring pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sudah memiliki dukungan kebijakan dan mekanisme harga yang jelas, pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) dan hidrogen masih memerlukan penguatan kerangka hukum.

"Pekerjaan rumah terbesar kita adalah memastikan adanya dasar hukum yang kuat. Saat ini, regulasi untuk pengembangan biohidrogen masih perlu terus didorong agar memberikan kepastian bagi para pelaku usaha," tutup Hokkop.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar