NTP Februari Meroket 1,50%: Siapa Untung, Siapa Buntung?

Renita

NTP Februari Meroket 1,50%: Siapa Untung, Siapa Buntung?

Poros Informasi – Kesejahteraan petani di Indonesia menunjukkan sinyal yang beragam namun cenderung positif pada Februari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional mencapai 125,45, melonjak 1,50% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini mengindikasikan daya beli petani secara agregat yang membaik, didorong oleh lonjakan harga pada beberapa komoditas strategis.

Peningkatan NTP ini utamanya disokong oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang tumbuh signifikan sebesar 2,17%. Angka ini jauh melampaui kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang hanya 0,65%. Artinya, pendapatan yang diterima petani dari penjualan hasil panen mereka tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga yang harus mereka keluarkan.

NTP Februari Meroket 1,50%: Siapa Untung, Siapa Buntung?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, pada Senin (2/3/2026), menjelaskan bahwa beberapa komoditas menjadi motor penggerak utama kenaikan It. "Cabai rawit, kelapa sawit, karet, dan bawang merah adalah komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani nasional," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa petani yang berfokus pada komoditas perkebunan dan hortikultura tersebut menikmati momentum positif yang signifikan.

Sisi Lain Kesejahteraan Petani: Tantangan di Sektor Pangan

Namun, gambaran kesejahteraan petani tidaklah seragam di seluruh lini. Di balik kenaikan NTP nasional yang menggembirakan, terdapat subsektor yang justru mengalami tekanan. Subsektor tanaman pangan, misalnya, mencatat penurunan NTP terdalam, yakni sebesar 0,88%.

Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani di subsektor ini hanya turun tipis 0,08%, namun di saat yang sama, indeks harga yang dibayar petani justru meningkat 0,81%. Kondisi ini menunjukkan bahwa petani pangan menghadapi kenaikan biaya produksi atau kebutuhan hidup yang tidak diimbangi oleh kenaikan harga jual produk mereka. Sebuah indikator bahwa margin keuntungan mereka tergerus.

Ateng menambahkan, "Komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan It pada subsektor tanaman pangan ini adalah jagung." Fluktuasi harga jagung, yang merupakan komoditas penting bagi banyak petani pangan, menjadi faktor penekan utama yang perlu dicermati lebih lanjut.

Dinamika Harga Komoditas dan Daya Beli Petani

Data BPS ini menggarisbawahi kompleksitas dinamika ekonomi di sektor pertanian. Kenaikan NTP secara agregat memang patut diapresiasi sebagai indikator perbaikan daya beli petani. Namun, perbedaan kinerja antar subsektor menuntut perhatian lebih dari para pembuat kebijakan. Petani komoditas perkebunan dan hortikultura seperti sawit, karet, cabai, dan bawang merah terlihat menikmati momentum positif yang mendorong peningkatan pendapatan, sementara petani tanaman pangan menghadapi tantangan yang berbeda, terutama terkait biaya input dan stabilitas harga jual.

Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu terus memantau pergerakan harga komoditas dan biaya produksi di setiap subsektor. Kebijakan yang tepat sasaran diperlukan untuk memastikan bahwa peningkatan kesejahteraan petani dapat dirasakan secara merata, serta untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tingkat konsumen, mengingat pentingnya sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Baca Juga

Ikuti Kami

Tags

Tinggalkan komentar