Poros Informasi – Avalanche (AVAX) kembali mencuri perhatian pasar kripto. Rencana Charles Schwab untuk membuka akses perdagangan spot native AVAX kepada puluhan juta nasabah brokerage-nya, ditambah dengan akumulasi signifikan oleh institusi, memicu spekulasi tentang potensi lonjakan harga. Saat ini diperdagangkan di sekitar US$7,25, mata uang digital ini tengah diuji untuk mempertahankan momentum breakout yang bisa membawanya kembali menguji level US$9,80.
Charles Schwab: Gerbang Baru untuk Jutaan Investor Tradisional

Langkah strategis Charles Schwab, raksasa layanan keuangan dengan aset klien melampaui US$12 triliun dan sekitar 39 juta akun brokerage, menjadi pendorong utama optimisme terhadap AVAX. Setelah sukses dengan Bitcoin dan Ethereum, Schwab kini bersiap untuk mengintegrasikan perdagangan spot native untuk Avalanche, Solana, dan Chainlink. Ini bukan sekadar penambahan aset, melainkan upaya untuk mempertahankan basis klien yang semakin tertarik pada aset digital, seperti diungkapkan oleh Scott Melker, ‘The Wolf Of All Streets’.
Integrasi ini memungkinkan investor tradisional untuk mendapatkan eksposur langsung ke AVAX tanpa perlu berpindah platform, meskipun token tersebut tidak dapat ditransfer masuk atau keluar dari ekosistem Schwab. Dengan biaya transaksi 75 basis poin, penempatan AVAX di samping instrumen investasi konvensional seperti saham dan obligasi menandai legitimasi yang semakin besar bagi aset kripto di mata investor institusional.
Arus Institusional Menguat: Whale Kripto Memborong AVAX
Di balik layar, ‘whale’ institusional juga menunjukkan minat yang kian besar terhadap Avalanche. Data dari Coinedition menunjukkan bahwa produk investasi berbasis AVAX yang dikelola oleh pemain besar seperti Bitwise, VanEck, dan Grayscale kini memegang sekitar 5,1 juta AVAX, atau sekitar 1,18% dari total pasokan yang beredar. Lebih menarik lagi, sekitar 3,49 juta AVAX dari jumlah tersebut telah di-staking, secara efektif mengeluarkannya dari peredaran aktif di pasar.
Selain ETF, entitas korporat seperti AVAX One dengan 14 juta AVAX dan Avalanche Treasury Corp dengan 15,3 juta AVAX juga telah mengakumulasi token dalam jumlah besar, dengan sebagian besar juga di-staking. Fenomena ini menciptakan potensi kelangkaan pasokan AVAX yang tersedia untuk diperdagangkan, meskipun dorongan harga yang signifikan akan sangat bergantung pada masuknya permintaan baru, bukan hanya dari token yang terkunci.
BlackRock dan RWA: Pilar Baru Ekosistem Avalanche
Dukungan terhadap Avalanche juga datang dari sektor Real-World Assets (RWA) yang tengah booming. Dana Treasury tokenisasi BUIDL milik BlackRock, salah satu raksasa manajemen aset global, kini menjadi aset terbesar kedua di jaringan Avalanche, dengan total alokasi terkait BlackRock melampaui US$900 juta. Ini menunjukkan kepercayaan institusi terhadap kapabilitas Avalanche dalam menopang aset dunia nyata yang didigitalkan.
Lebih lanjut, jaringan custom Layer-1 Avalanche telah menarik minat entitas besar lainnya seperti FIS Global, T. Rowe Price, WisdomTree, dan Progmat dari Jepang, yang telah memindahkan sekuritas tokenisasi senilai lebih dari US$2 miliar ke salah satu Layer-1 Avalanche. Perkembangan ini menegaskan bahwa utilitas Avalanche melampaui sekadar perdagangan kripto, merambah ke infrastruktur keuangan institusional dan tokenisasi aset yang masif.
Analisis Teknikal AVAX: Akankah Breakout Bertahan?
Dari perspektif teknikal, AVAX telah menunjukkan pergerakan yang menjanjikan. Setelah berbulan-bulan terkonsolidasi dalam pola symmetric triangle sejak Juni hingga akhir Agustus, dengan support yang terus naik dari sekitar US$6,10 dan resistance yang menurun dari level US$9,80 di bulan Mei, AVAX berhasil melakukan breakout. Harga sempat melesat hingga US$8,05 sebelum sedikit terkoreksi.
Saat ini, AVAX tengah berjuang di sekitar moving average krusial: EMA 20 hari di US$7,077, EMA 50 hari di US$6,894, dan EMA 100 hari di US$7,254. Kunci keberlanjutan breakout ini adalah kemampuan AVAX untuk bertahan di atas zona support US$7,07-US$7,25. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di angka 56,5, menandakan momentum yang sedikit mendingin pasca-lonjakan, namun belum menunjukkan kondisi overbought atau oversold yang ekstrem.
Sentimen Derivatif: Trader Tetap Optimis Meski Pasar Mendingin
Meskipun struktur harga menunjukkan sinyal positif, pasar derivatif AVAX mulai menunjukkan sedikit pendinginan. Volume perdagangan derivatif AVAX mengalami penurunan sekitar 23,9% menjadi US$274,36 juta, diiringi oleh penurunan open interest sebesar 2,55% menjadi sekitar US$287,02 juta. Ini mengindikasikan bahwa euforia pasca-breakout pekan lalu mulai mereda.
Namun, sentimen bullish di kalangan trader masih sangat dominan. Rasio long-to-short di Binance mencapai 2,02, dan di OKX sekitar 1,98. Bahkan di antara top trader Binance, rasio ini melonjak hingga 2,67, menunjukkan keyakinan kuat pada kenaikan harga. Data likuidasi juga menguatkan sentimen ini, di mana mayoritas posisi yang terlikuidasi dalam 24 jam terakhir (lebih dari US$317 ribu dari total US$329 ribu) berasal dari short seller, menandakan tekanan jual yang gagal.
Proyeksi Harga AVAX: Mampukah Menuju Puncak Mei?
Melihat ke depan, skenario bullish untuk AVAX akan terwujud jika berhasil mempertahankan zona support krusial di US$7,07-US$7,25 dan kembali menembus resistance kuat di US$8,05. Jika momentum ini didukung oleh volume perdagangan yang solid, pintu menuju target berikutnya di US$9,80, yang merupakan level tertinggi AVAX pada bulan Mei, akan terbuka lebar. Katalis fundamental dari Charles Schwab dan akumulasi institusional tentu akan menjadi bahan bakar tambahan.
Namun, para trader juga harus mewaspadai skenario koreksi. Apabila AVAX






