Dolar Goyah, Bitcoin US$81.000 & Emas Terbang: Sinyal Jackson Hole?

Usman

Poros Informasi – Pasar keuangan global kembali dihebohkan dengan lonjakan harga Bitcoin yang menembus level US$81.000 pada Selasa, 25 Agustus 2026. Fenomena ini beriringan dengan reli emas yang mencatat performa bulanan terbaiknya sejak tahun 1999. Analis dari porosinformasi.co.id mengindikasikan bahwa kedua aset ini sama-sama mendapat dorongan signifikan dari pelemahan dolar AS, kekhawatiran yang membayangi pasar obligasi, serta ekspektasi terhadap potensi tertahannya imbal hasil jangka panjang berkat rencana buyback obligasi pemerintah AS.

Bitcoin dan Emas: Dua Aset, Satu Arah Makro

Dolar Goyah, Bitcoin US$81.000 & Emas Terbang: Sinyal Jackson Hole?
Gambar Istimewa : news.tokocrypto.com

Reli Fenomenal di Tengah Gejolak Pasar

Bitcoin sempat menyentuh puncaknya di US$81.165 sebelum sedikit terkoreksi ke kisaran US$80.792, menandai kenaikan sekitar 4,5% dalam 24 jam terakhir. Pergerakan ini memperpanjang tren positif BTC setelah berhasil melampaui US$80.000 untuk pertama kalinya sejak Mei. Di sisi lain, emas spot juga tak kalah gemilang, melonjak hingga US$4.677 per ons, mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. UOB bahkan memprediksi kenaikan emas bulan ini berpotensi menjadi yang terbaik sejak 1999, seiring investor mencari perlindungan nilai dari pelemahan dolar dan risiko fiskal AS. Reli serempak ini mengisyaratkan bahwa pasar sedang membaca risiko makroekonomi dengan lensa yang serupa, mendorong minat pada aset yang dianggap sebagai penangkal terhadap penurunan daya beli mata uang.

Dolar AS Melemah, Katalis Utama

MarketWatch melaporkan bahwa lonjakan Bitcoin di atas US$80.000 terjadi pasca pengumuman Treasury AS untuk menggandakan program buyback obligasi jangka panjang. Langkah ini memperkuat narasi debasement trade, sebuah strategi di mana investor mengakuisisi aset seperti emas dan Bitcoin ketika kepercayaan terhadap dolar atau utang pemerintah mulai goyah. Bagi Bitcoin, kombinasi dolar yang lebih lemah dan imbal hasil obligasi yang lebih rendah secara historis menjadi katalis positif. Kondisi ini membuat aset non-produktif seperti BTC dan emas tampak lebih menarik dibandingkan memegang kas atau obligasi yang imbal hasilnya tertekan.

Manuver Treasury dan Bayang-bayang Jackson Hole

Buyback Obligasi: Pedang Bermata Dua?

Pemicu utama reli ini berasal dari pasar obligasi AS. Menteri Keuangan Scott Bessent sebelumnya mengumumkan rencana ambisius untuk menggandakan operasi buyback obligasi jangka panjang, dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi. Financial Times merinci bahwa program ini akan menargetkan obligasi bertenor 10 hingga 30 tahun, berlangsung dari 9 September hingga awal November. Langkah ini muncul setelah imbal hasil obligasi 30 tahun AS sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun. Pasar menginterpretasikan kebijakan ini sebagai upaya pemerintah AS untuk meredam tekanan pada imbal hasil jangka panjang. Namun, efektivitasnya masih menjadi perdebatan, mengingat laporan AP yang menyebutkan imbal hasil Treasury sempat kembali naik setelah pengumuman tersebut, menimbulkan keraguan di kalangan investor. Sebagian analis bahkan melihat upaya ini sebagai bentuk financial repression, di mana pemerintah berupaya mengendalikan pasar obligasi agar biaya pendanaan tetap terkendali.

Menanti Sinyal dari Jackson Hole

Dolar AS juga menjadi faktor krusial. WSJ melaporkan bahwa indeks dolar DXY sempat menyentuh level terendah tiga bulan pasca pengumuman buyback obligasi. Pelemahan dolar secara inheren membuat emas, yang dihargakan dalam dolar, menjadi lebih terjangkau bagi pembeli di luar AS. Pada saat yang sama, ini seringkali menjadi sinyal positif bagi Bitcoin, meningkatkan minat terhadap aset alternatif. Kini, perhatian pasar tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole Economic Policy Symposium pada 28 Agustus. Sinyal dovish (kebijakan longgar) dari Warsh dapat memicu kelanjutan reli Bitcoin dan emas, sementara nada hawkish (kebijakan ketat) dapat menahan momentum kenaikan, berpotensi menguatkan dolar dan menaikkan imbal hasil.

Prospek Bitcoin: Antara Volatilitas dan Momentum Bullish

Level Kritis US$80.000

Meskipun narasi makroekonomi memberikan dukungan kuat, Bitcoin tetap merupakan aset yang sangat volatil. Meskipun berhasil melewati US$81.000, pergerakannya bisa berubah cepat jika data ekonomi atau komentar dari The Fed tidak sesuai ekspektasi pasar. Dalam jangka pendek, area US$80.000 menjadi level psikologis yang krusial. Selama BTC mampu bertahan di atas level ini, momentum bullish diperkirakan akan tetap terjaga, membuka peluang menuju level yang lebih tinggi. Namun, jika BTC kembali tergelincir di bawah US$80.000, reli terbaru ini bisa dianggap overextended, dengan support berikutnya berada di kisaran US$78.000. Investor juga disarankan untuk memantau volume perdagangan dan inflow ETF Bitcoin; arus dana yang kuat akan memperkuat struktur kenaikan harga.

Narasi Debasement Trade Menguat

Secara keseluruhan, lonjakan Bitcoin di atas US$81.000 dan emas yang meroket menunjukkan bahwa pasar kembali memainkan narasi debasement trade. Pelemahan dolar, tekanan di pasar obligasi, dan kekhawatiran terhadap utang AS mendorong investor mencari aset alternatif. Emas mendapatkan dorongan sebagai aset safe haven tradisional, sementara Bitcoin kembali diposisikan sebagai lindung nilai digital terhadap penurunan nilai mata uang. Keduanya bergerak searah, didukung oleh faktor makroekonomi yang sama. Namun, reli ini masih akan menghadapi ujian besar dari Jackson Hole dan arah imbal hasil Treasury. Untuk saat ini, Bitcoin tetap dalam tren bullish selama bertahan di atas US$80.000, namun volatilitas berpotensi meningkat menjelang sinyal kebijakan moneter pekan ini.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar