Masa Depan Cerah di 2026? XRP, Solana, dan Chainlink Masih Disebut Undervalued, Ini Alasannya!

Amalia Citra

Amalia Citra

Potensi Tersembunyi di Tengah Tekanan Pasar

Poros Informasi – 06 Agustus 2026 | Di tengah gejolak pasar aset kripto yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir, para analis mulai menyoroti potensi aset-aset berkapitalisasi besar yang dinilai masih diperdagangkan di bawah nilai fundamental jangka panjangnya. Analisis terbaru secara konsisten menempatkan XRP, Solana (SOL), dan Chainlink (LINK) sebagai tiga aset yang dinilai undervalued di 2026. Meskipun ketiganya masih mencatat pelemahan harga dari level tertinggi sepanjang masa (all-time high) masing-masing, fundamental yang kuat dari sisi adopsi, minat institusional, dan aktivitas jaringan terus menunjukkan sinyal positif.

Tim Riset Tokocrypto menggarisbawahi bahwa prospek ketiga aset ini tidak lepas dari tantangan. Solana masih dihadapkan pada penurunan pendapatan jaringan, sementara Chainlink perlu membuktikan hubungan kausal yang lebih kuat antara adopsi infrastrukturnya dan permintaan token LINK. Di sisi lain, XRP harus menavigasi keseimbangan antara peran fundamentalnya sebagai token dengan pertumbuhan pesat stablecoin RLUSD.

Solana: Minat Institusional dan Upgrade Teknologi

Solana (SOL) digadang-gadang sebagai salah satu kandidat pemulihan terkuat di antara altcoin besar. Saat ini, harga SOL masih berada sekitar 75% di bawah all-time high-nya, kembali ke level yang terakhir terlihat pada akhir tahun 2023. Momentum bulanan SOL juga sempat melemah ke level terendah sepanjang sejarah. Namun, di balik pelemahan harga tersebut, minat institusional terhadap Solana tetap menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.

Produk investasi Solana yang terdaftar di Amerika Serikat dan diluncurkan pada Oktober 2025 berhasil mencatat arus masuk (inflow) pada setiap hari perdagangan sepanjang bulan lalu. Produk investasi ini kini mengelola aset senilai sekitar US$1 miliar, dengan hampir separuhnya berasal dari investor institusional seperti hedge fund dan penasihat investasi. Angka ini mengindikasikan kepercayaan institusi terhadap potensi jangka panjang Solana.

Dari sisi teknologi, Solana tengah mempersiapkan upgrade besar bernama Alpenglow. Upgrade ini diklaim sebagai peningkatan jaringan terbesar Solana sejauh ini. Jika diterapkan sepenuhnya tahun ini, finalitas transaksi Solana diproyeksikan meningkat signifikan dari rata-rata 12,8 detik menjadi sekitar 150 milidetik. Peningkatan ini berpotensi mempercepat proses penyelesaian transaksi dan memperkuat posisi Solana sebagai jaringan berperforma tinggi.

Meskipun demikian, tantangan bagi Solana tetap besar. Pendapatan harian jaringan dilaporkan turun drastis dari sekitar US$1,5 juta menjadi US$314.000, sebuah pelemahan hampir 80%, seiring melambatnya aktivitas trading memecoin. Partisipasi dari investor ritel juga menunjukkan tren penurunan. Data on-chain menunjukkan jumlah dompet yang menyimpan minimal 0,1 SOL turun sekitar 5% dalam dua pekan terakhir, dari 11,84 juta menjadi 11,26 juta.

Chainlink: Membangun Infrastruktur, Harga Tertinggal

Chainlink (LINK) juga turut masuk dalam daftar altcoin yang dinilai masih undervalued. Harga LINK saat ini diperdagangkan lebih dari 80% di bawah all-time high-nya, meskipun infrastruktur yang dibangunnya terus berkembang pesat di sektor keuangan tradisional. Chainlink memfasilitasi bank dan lembaga keuangan untuk terhubung dengan jaringan blockchain tanpa perlu mengganti sistem yang sudah ada.

Posisi Chainlink menjadi krusial dalam pengembangan interoperabilitas antara sistem keuangan tradisional dan aset digital. Jaringan ini telah menjalin kemitraan strategis dengan entitas besar seperti SWIFT, jaringan pembayaran global yang menghubungkan sekitar 11.000 institusi keuangan, serta perusahaan terkemuka seperti UBS dan Euroclear. Pada kuartal I tahun ini, Cross-Chain Interoperability Protocol (CCIP) milik Chainlink berhasil memproses lebih dari US$18 miliar nilai transaksi lintas blockchain, menunjukkan peningkatan adopsi infrastruktur Chainlink untuk kebutuhan institusional.

Akses investor terhadap LINK juga semakin luas melalui produk investasi dari manajer aset ternama seperti Grayscale dan Bitwise. Selain itu, sekitar 75% dari total suplai LINK sudah beredar, yang berarti risiko dilusi token di masa depan relatif lebih rendah dibandingkan beberapa aset kripto lainnya.

Namun, Chainlink menghadapi tantangan utama. Lembaga keuangan dapat memanfaatkan infrastruktur Chainlink tanpa harus membeli token LINK secara langsung. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pertumbuhan adopsi jaringan secara otomatis akan menciptakan tekanan beli yang signifikan terhadap LINK. Selain itu, Chainlink juga menghadapi persaingan ketat dari proyek interoperabilitas lain seperti LayerZero dan Wormhole.

XRP: Kejelasan Hukum dan Pertumbuhan Ekosistem

XRP menjadi altcoin lain yang menjadi sorotan dalam analisis ini. Meskipun harga XRP mengalami penurunan hampir 43% sepanjang tahun ini, aset ini terus mencatat perkembangan positif dari sisi adopsi dan produk investasi. Sagar Shah, Chief Business Officer Evernorth, berpendapat bahwa nilai jangka panjang XRP terletak pada perannya dalam pembayaran lintas negara, penyediaan likuiditas, dan aset ter-tokenisasi (tokenized assets). Menurutnya, adopsi akan menjadi pendorong utama nilai XRP, bukan sekadar pergerakan harga jangka pendek.

Setelah gugatan dari SEC sebagian besar menemui titik terang, XRP kini memiliki tujuh produk investasi yang terdaftar di Amerika Serikat. Produk-produk ini telah berhasil menarik arus masuk kumulatif hampir US$1,5 miliar sejak diluncurkan. Dari sisi ekosistem, stablecoin Ripple USD (RLUSD) juga menunjukkan pertumbuhan signifikan, mencapai suplai sekitar US$1,6 miliar. Lebih banyak RLUSD kini diterbitkan di XRP Ledger dibandingkan di Ethereum, terutama setelah ekspansi ke Jepang melalui SBI Holdings.

Aktivitas jaringan XRP Ledger pun dilaporkan meningkat pesat. Transaksi harian melonjak ke sekitar 3 juta, atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan level pertengahan tahun 2025. Namun, pertumbuhan RLUSD juga memicu perdebatan di komunitas XRP. Potensi stablecoin ini untuk menjalankan banyak fungsi pembayaran lintas negara yang sebelumnya menjadi narasi utama XRP dapat mengurangi sebagian permintaan terhadap XRP jika RLUSD lebih banyak digunakan untuk penyelesaian transaksi.

Kendati demikian, XRP masih dapat memainkan peran sebagai aset jembatan (bridge asset) untuk mata uang yang tidak memiliki pasangan perdagangan langsung. Untuk jangka panjang, prospek XRP akan sangat bergantung pada bagaimana Ripple memposisikan peran XRP berdampingan dengan RLUSD. Jika keduanya dapat saling melengkapi, adopsi ekosistem berpotensi semakin menguat. Namun, jika fungsi RLUSD menjadi terlalu dominan, pasar mungkin akan kembali mempertanyakan utilitas langsung XRP.

Prospek Jangka Panjang Tetap Menjanjikan

Secara keseluruhan, XRP, Solana, dan Chainlink dinilai masih undervalued di 2026, meskipun ketiganya masih menghadapi tekanan harga. Ketiga aset ini memiliki narasi fundamental yang kuat dan belum hilang. Solana didukung oleh minat institusional yang berkelanjutan dan upgrade teknologi yang menjanjikan. Chainlink terus memperkuat posisinya sebagai infrastruktur krusial di sektor keuangan tradisional. Sementara XRP mendapatkan dorongan dari kejelasan hukum dan pertumbuhan ekosistem pembayarannya.

Penting untuk dicatat bahwa status undervalued belum secara otomatis menjamin kenaikan harga dalam waktu dekat. Ketiga aset ini masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut dari sisi peningkatan aktivitas jaringan, permintaan investor yang solid, dan sentimen pasar yang lebih luas agar potensi pemulihan dapat terus berlanjut. Analis tetap optimis bahwa XRP, Solana, dan Chainlink dinilai masih undervalued di 2026, memberikan peluang bagi investor yang cermat.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tinggalkan komentar