Poros Informasi – 12 Agustus 2026 | Jakarta, Indonesia – Pasar aset digital global kembali dilanda kecemasan. Bitcoin tertahan di US$64.000, CLARITY Act hingga arus ETF jadi penentu arah pergerakan aset kripto andalan ini. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin dilaporkan mengalami pelemahan sekitar 2%, diperdagangkan di kisaran US$64.000. Penurunan ini sejalan dengan pasar kripto secara keseluruhan yang terkoreksi 1,37%, menyentuh angka US$2,19 triliun.
Tim Research Tokocrypto mengamati bahwa Bitcoin saat ini masih berada dalam rentang konsolidasi yang ketat, terjebak di antara level support krusial di US$60.000 dan resistance kuat di US$70.000. Dengan kapitalisasi pasar yang mencapai US$1,28 triliun, arah pergerakan Bitcoin selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci, termasuk arus dana institusional, perkembangan regulasi di Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik global.
CLARITY Act: Katalis Regulasi yang Dinanti
Salah satu agenda utama yang menjadi sorotan investor adalah perkembangan CLARITY Act di Senat Amerika Serikat. Meskipun pemungutan suara resmi tidak dijadwalkan sebelum reses Agustus, pembahasan rancangan undang-undang (RUU) yang bertujuan untuk menciptakan kerangka regulasi yang lebih jelas bagi pasar aset digital ini akan kembali masuk dalam agenda pada bulan September.
CLARITY Act dirancang untuk memberikan kepastian hukum dengan memperjelas pembagian peran antara regulator federal utama, yaitu Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Namun, proses legislasi ini tidak luput dari tantangan. Perdebatan mengenai ketentuan etika, perlindungan bagi sektor decentralized finance (DeFi), serta isu-isu terkait perbankan masih menjadi faktor penghambat yang membuat pembahasan belum mencapai titik akhir.
Apabila pembahasan di Senat kembali berjalan lancar pada September dan berhasil mendapatkan dukungan bipartisan, hal ini berpotensi meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar kripto secara signifikan. Kejelasan regulasi yang ditawarkan CLARITY Act dapat memicu peningkatan minat dari kalangan institusional terhadap Bitcoin dan aset digital lainnya. Sebaliknya, jika pembahasan kembali tertunda atau gagal meraih dukungan yang memadai, ketidakpastian regulasi dapat terus membayangi pasar, menekan sentimen, terutama mengingat Bitcoin masih berjuang menembus resistance US$70.000.
Strategi Penjualan Bitcoin oleh MicroStrategy Mempengaruhi Sentimen
Di luar faktor regulasi, aktivitas treasury perusahaan-perusahaan besar juga menjadi perhatian pasar. MicroStrategy, yang dikenal sebagai salah satu pendukung kuat Bitcoin, dilaporkan telah menjual sekitar 1.690 Bitcoin senilai US$109 juta pada pekan lalu. Penjualan ini merupakan bagian dari rangkaian pelepasan Bitcoin yang telah berlangsung selama empat pekan berturut-turut, dengan total penjualan mencapai 6.916 Bitcoin senilai US$429,4 juta.
Meskipun sebagian hasil penjualan dilaporkan digunakan untuk membeli kembali saham preferen dan meningkatkan cadangan kas melalui penjualan saham biasa, MicroStrategy masih memegang cadangan Bitcoin yang signifikan. Namun, frekuensi penjualan ini dapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Selama ini, MicroStrategy dianggap sebagai simbol akumulasi korporasi terhadap Bitcoin. Pengulangan penjualan dapat memicu persepsi bahwa permintaan dari kalangan korporat tidak lagi sekuat sebelumnya, yang berpotensi membebani sentimen pasar.
Arus Dana ETF Bitcoin Kembali Jadi Fokus
Arus dana yang masuk dan keluar dari Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin juga menjadi indikator penting bagi arah harga Bitcoin. Data terbaru menunjukkan bahwa ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat mencatat outflow bersih sekitar US$145 juta pada 10 Agustus. ETF spot Ethereum juga mengalami penarikan dana sekitar US$14,6 juta.
Periode outflow ini terjadi setelah beberapa sesi sebelumnya menunjukkan tren positif, di mana ETF Bitcoin dan Ethereum sempat berhasil menarik dana bersih sekitar US$1,1 miliar dalam sepekan. Hal ini mengindikasikan bahwa minat institusional belum sepenuhnya padam. Namun, jika tren outflow terus berlanjut, kemampuan Bitcoin untuk kembali menguji level US$70.000 dapat terhambat. Arus keluar dana dari ETF berpotensi mengurangi tekanan beli institusional dan membuat BTC lebih rentan terhadap koreksi lebih lanjut.
Sebaliknya, jika ETF kembali mencatat inflow yang positif, level support US$60.000 berpotensi mendapatkan dukungan yang lebih kuat. Inflow baru juga dapat membantu Bitcoin membangun momentum untuk menguji kembali level-level resistensi penting seperti US$65.000, US$68.000, hingga akhirnya US$70.000. Dengan demikian, Bitcoin tertahan di US$64.000, CLARITY Act hingga arus ETF jadi penentu arah pergerakan selanjutnya.
Risiko Geopolitik AS-Iran Masih Membayangi
Selain faktor regulasi dan arus dana institusional, pasar juga tetap waspada terhadap potensi risiko geopolitik, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini berpotensi memengaruhi harga minyak global, ekspektasi inflasi, dan sentimen investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Perubahan strategi pendekatan dari tekanan militer langsung menjadi tekanan ekonomi oleh Amerika Serikat terhadap Iran memang dapat mengurangi risiko militer jangka pendek. Namun, ketegangan yang berkepanjangan tetap berisiko mengganggu jalur energi global. Kenaikan harga energi akibat eskalasi konflik di kawasan Teluk dapat memperumit prospek inflasi dan menekan aset berisiko. Sebaliknya, jika ketegangan mereda dan jalur perdagangan energi menjadi lebih stabil, tekanan inflasi dapat berkurang, yang pada gilirannya dapat memberikan sentimen positif bagi pasar kripto, terutama jika sejalan dengan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih dovish.
Analisis Teknikal: Bitcoin Butuh Rebut US$65.000
Secara teknikal, Bitcoin perlu segera merebut kembali level US$65.000 untuk memulihkan momentum jangka pendeknya. Jika level ini berhasil ditembus dan dipertahankan, area US$68.000 akan menjadi resistance berikutnya. Dengan asumsi arus dana ETF membaik dan level support US$60.000 tetap kokoh, peluang Bitcoin untuk kembali menguji US$70.000 masih terbuka lebar. Kemajuan positif dalam pembahasan CLARITY Act pada bulan September juga dapat memperkuat skenario bullish ini.
Namun, tekanan jual tetap perlu diwaspadai. Jika Bitcoin gagal mempertahankan level US$63.500, harga berpotensi terkoreksi menuju US$62.000. Risiko penurunan yang lebih signifikan akan muncul jika Bitcoin kehilangan support krusial di US$60.000. Dalam skenario terburuk tersebut, BTC dapat melemah lebih lanjut menuju US$55.000, bahkan level psikologis US$50.000 bisa kembali menjadi perhatian pasar jika tekanan jual semakin menguat. Oleh karena itu, Bitcoin tertahan di US$64.000, CLARITY Act hingga arus ETF jadi penentu arah pergerakan harga dalam beberapa waktu ke depan.
Saat ini, Bitcoin berada dalam fase penentuan krusial. Level support US$60.000 dan resistance US$70.000 menjadi dua batas utama yang akan menentukan arah tren berikutnya. Kombinasi membaiknya arus dana ETF, meredanya tekanan geopolitik, dan kemajuan regulasi CLARITY Act pada September berpotensi mendorong Bitcoin kembali menguji US$70.000. Namun, skenario sebaliknya, yaitu berlanjutnya outflow ETF, meningkatnya penjualan institusional, dan memburuknya risiko makroekonomi, dapat menekan BTC lebih jauh menuju US$60.000 hingga US$50.000.







