Rahasia Bitcoin US$1 Juta Terbongkar! Analis Wall Street Ungkap Jalurnya

Usman

Poros Informasi – Dunia kripto kembali dihebohkan dengan proyeksi harga Bitcoin (BTC) yang sangat ambisius. Perusahaan riset Wall Street terkemuka, Bernstein, memprediksi aset digital paling populer ini siap melesat dalam reli epik, berpotensi mencapai US$1 juta pada akhir 2033. Proyeksi ini datang saat Bitcoin menunjukkan kekuatan, kembali bergerak di kisaran US$78.000–US$80.000 setelah mencatat lonjakan sekitar 20% dalam sepekan terakhir.

Tim Riset porosinformasi.co.id menilai bahwa pandangan Bernstein ini sangat agresif, terutama untuk jangka panjang. Mereka menggarisbawahi bagaimana adopsi institusional yang terus meningkat, ditambah kekhawatiran terhadap tumpukan utang pemerintah global dan potensi pelemahan nilai mata uang fiat (currency debasement), menjadi motor utama di balik optimisme luar biasa ini.

Rahasia Bitcoin US$1 Juta Terbongkar! Analis Wall Street Ungkap Jalurnya
Gambar Istimewa : news.tokocrypto.com

Proyeksi Ambisius: Dari Ratusan Ribu Hingga Jutaan Dolar

Bernstein tidak hanya berbicara tentang target US$1 juta. Mereka telah memetakan jalur kenaikan harga Bitcoin secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan, yang didasarkan pada model siklus empat tahunan historis Bitcoin.

Peta Jalan Harga Bitcoin Menurut Bernstein

Analis Bernstein, yang dipimpin oleh Gautam Chhugani, memperkirakan bahwa siklus Bitcoin akan terus mengikuti pola historisnya. Dalam skenario dasar mereka, BTC diproyeksikan:

  • Mencapai sekitar US$125.000 pada akhir tahun 2026.
  • Kemudian, mencetak rekor baru di kisaran US$150.000 pada pertengahan tahun 2027.
  • Reli besar berikutnya diperkirakan terjadi pada tahun 2029, dengan Bernstein menempatkan sekitar US$300.000 sebagai puncak siklus tersebut. Angka ini didasarkan pada model yang mengaitkan valuasi Bitcoin dengan biaya produksi marginalnya.

Jika Bitcoin saat ini berada di sekitar US$79.000, target US$300.000 berarti BTC berpotensi melonjak hampir empat kali lipat dari level saat ini. Namun, Bernstein menekankan bahwa angka-angka ini adalah proyeksi yang sangat bergantung pada perkembangan siklus pasar dan kondisi makroekonomi global di masa mendatang.

Skenario Optimis: Potensi Lebih Tinggi di Tengah Badai Ekonomi

Tidak berhenti di situ, Bernstein juga menyiapkan skenario yang jauh lebih optimistis. Apabila kondisi makroekonomi semakin mendorong investor untuk beralih ke aset langka, maka Bitcoin bisa mencapai:

  • US$200.000 pada pertengahan 2027, melampaui target dasar US$150.000.
  • Puncak siklus 2029 bahkan dapat menyentuh sekitar US$500.000 jika aliran modal institusional ke Bitcoin semakin agresif.

Setelah itu, visi jangka panjang Bernstein tetap kokoh: Bitcoin diproyeksikan menyentuh angka fantastis US$1 juta pada penghujung 2033. Target ini telah disampaikan Bernstein sejak 2024 dan tetap dipertahankan, meskipun pasar Bitcoin telah melewati beberapa fase koreksi besar.

Mengapa Bernstein Begitu Bullish? Faktor-faktor Pendorong Reli BTC

Optimisme Bernstein tidak hanya didasarkan pada analisis siklus historis Bitcoin semata. Ada beberapa faktor fundamental yang menjadi pilar utama proyeksi bullish mereka.

Utang Pemerintah dan Pelemahan Mata Uang: Katalis Kripto

Salah satu faktor terbesar adalah pergeseran kondisi ekonomi global. Bernstein berpendapat bahwa era suku bunga rendah yang berlangsung selama empat dekade telah berakhir, sementara beban utang pemerintah terus membengkak. Amerika Serikat menjadi contoh nyata, dengan utang negara yang telah mencapai sekitar US$40 triliun.

Menurut Bernstein, kenaikan imbal hasil obligasi dapat memicu siklus di mana biaya pembayaran bunga meningkat, defisit fiskal membesar, dan pemerintah terpaksa menerbitkan lebih banyak utang. Kondisi ini berpotensi menciptakan apa yang disebut sebagai "debasement trade". Sederhananya, ketika pemerintah dihadapkan pada pilihan antara pengetatan fiskal yang berat atau membiarkan nilai riil mata uang tergerus, investor cenderung meningkatkan eksposur terhadap aset yang pasokannya terbatas. Bitcoin, dengan pasokan maksimal 21 juta BTC, dinilai sebagai salah satu aset yang paling diuntungkan dari skenario ini.

Gelombang Adopsi Institusional dan Kelangkaan Bitcoin

Faktor krusial lainnya adalah perubahan struktur investor Bitcoin. Jika beberapa siklus sebelumnya sangat bergantung pada investor ritel, kehadiran spot Bitcoin ETF telah membuka pintu lebar bagi investor institusional untuk mengakses BTC.

Bernstein menilai bahwa pertumbuhan investor melalui ETF dan kanal investasi tradisional lainnya akan menciptakan basis permintaan yang jauh lebih kuat dan stabil dibandingkan siklus-siklus sebelumnya. Firma ini juga mencatat bahwa sekitar 60% Bitcoin saat ini dipegang oleh kelompok investor yang relatif tidak sensitif terhadap harga, yang cenderung mempertahankan asetnya bahkan saat BTC mengalami koreksi lebih dari 50%. Kombinasi antara pasokan yang terbatas dan akses institusional yang semakin luas menjadi fondasi utama di balik proyeksi harga jangka panjang Bernstein.

Strategi MicroStrategy: Berbeda dengan Proyeksi BTC?

Menariknya, pandangan sangat bullish Bernstein terhadap Bitcoin tidak serta merta membuat firma tersebut menaikkan target harga saham MicroStrategy (MSTR), perusahaan yang dikenal sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia. Bernstein justru memangkas target harga saham MicroStrategy dari US$450 menjadi US$350.

Meskipun demikian, firma tersebut tetap mempertahankan peringkat "Outperform" terhadap saham MSTR. Alasan utama penurunan target ini adalah meningkatnya dilusi saham serta pembaruan asumsi mengenai siklus Bitcoin. MicroStrategy saat ini memegang sekitar 840.447 BTC, setara dengan sekitar 4% dari total pasokan Bitcoin yang akan pernah beredar. Artinya, pergerakan Bitcoin tetap sangat penting bagi valuasi perusahaan tersebut, namun investor MSTR juga harus memperhitungkan faktor korporasi seperti penerbitan saham baru dan struktur pendanaannya.

Tantangan dan Perjalanan Menuju Puncak Baru

Meskipun target US$300.000 hingga US$1 juta terdengar sangat menjanjikan, Bitcoin masih memiliki perjalanan panjang sebelum mencapai level tersebut. Dalam jangka lebih dekat, Bitcoin terlebih dahulu harus mampu mempertahankan momentum setelah kembali mendekati US$80.000 dan kemudian merebut kembali level psikologis US$100.000.

Bernstein sendiri memperkirakan BTC akan berada di sekitar US$125.000 pada akhir 2026 sebelum menuju US$150.000 pada pertengahan tahun berikutnya. Artinya, proyeksi US$300.000 bukan target jangka pendek, melainkan bagian dari perkiraan siklus pasar hingga 2029. Sementara target US$1 juta pada 2033 sangat bergantung pada asumsi bahwa adopsi institusional terus bertumbuh, kelangkaan Bitcoin tetap menjadi daya tarik utama, dan kondisi utang global semakin mendorong investor mencari aset alternatif.

Jika skenario tersebut terwujud, reli Bitcoin saat ini mungkin baru menjadi awal dari siklus yang jauh lebih besar. Namun, volatilitas tinggi dan koreksi tajam tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuju target-target fantastis ini.


DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset, dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar