Guncangan Ekonomi RI? Moody’s Beri Sinyal Negatif, BI Buka Suara!

Renita

Guncangan Ekonomi RI? Moody's Beri Sinyal Negatif, BI Buka Suara!

Poros Informasi – Lembaga pemeringkat global Moody’s baru-baru ini mengumumkan keputusannya yang krusial terkait peringkat kredit kedaulatan Republik Indonesia. Meskipun mempertahankan rating pada level Baa2, Moody’s melakukan penyesuaian prospek (outlook) menjadi negatif, efektif per 5 Februari lalu. Langkah ini menjadi perhatian serius di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.

Mengapa Rating Indonesia Tetap Kuat?

Guncangan Ekonomi RI? Moody's Beri Sinyal Negatif, BI Buka Suara!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Dalam analisisnya, Moody’s menggarisbawahi sejumlah faktor yang menopang afirmasi peringkat Baa2 Indonesia. Mereka menyoroti resiliensi perekonomian nasional yang kokoh, ditandai oleh laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten dan kuat. Pondasi struktural yang solid, seperti kekayaan sumber daya alam melimpah dan bonus demografi yang prospektif, turut menjadi penopang utama proyeksi pertumbuhan ekonomi jangka menengah.

Selain itu, kredibilitas kebijakan moneter yang dipegang teguh oleh Bank Indonesia serta pengelolaan fiskal yang pruden oleh pemerintah dianggap krusial dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan secara keseluruhan. Faktor-faktor inilah yang membuat Moody’s tetap yakin akan kemampuan Indonesia untuk memenuhi kewajiban utangnya.

Sinyal Peringatan dari Perubahan Outlook

Namun, di balik afirmasi tersebut, Moody’s juga menyematkan sinyal peringatan melalui revisi prospek menjadi negatif. Hal ini didasari oleh kekhawatiran lembaga tersebut terhadap potensi risiko penurunan kepastian kebijakan. Jika tren ini terus berlanjut, dikhawatirkan dapat berdampak negatif signifikan terhadap performa perekonomian Indonesia di masa mendatang, termasuk potensi terganggunya iklim investasi dan kepercayaan pasar.

Respons Tegas dari Bank Indonesia

Menyikapi langkah Moody’s ini, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, segera angkat bicara. Beliau menegaskan bahwa perubahan prospek tersebut sama sekali tidak merefleksikan adanya pelemahan fundamental dalam perekonomian Indonesia. Perry Warjiyo optimistis bahwa di tengah turbulensi dan ketidakpastian global yang masih tinggi, performa ekonomi domestik tetap menunjukkan ketahanan yang solid.

Data Makroekonomi Menjadi Bukti

Untuk memperkuat argumennya, Perry Warjiyo memaparkan sejumlah indikator makroekonomi terkini yang menunjukkan kinerja positif. Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2023 mencapai 5,39%, dengan pertumbuhan sepanjang tahun 2023 secara keseluruhan sebesar 5,1%. Tingkat inflasi juga berhasil dikendalikan pada angka 2,92%, yang masih berada dalam rentang target yang ditetapkan. Komitmen kuat Bank Indonesia juga terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika pasar global.

Lebih lanjut, Perry menekankan bahwa stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga dengan baik, didukung oleh ketersediaan likuiditas yang cukup, permodalan perbankan yang kokoh pada level tinggi, serta tingkat risiko kredit yang minim. Tak hanya itu, sektor pembayaran digital juga menunjukkan perkembangan yang stabil, didukung oleh infrastruktur yang andal dan struktur industri yang sehat, yang secara kolektif berkontribusi pada akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Perbedaan pandangan antara lembaga pemeringkat global dan otoritas moneter nasional ini menjadi sorotan penting. Meskipun Moody’s menyematkan prospek negatif, Bank Indonesia tetap optimis dengan fundamental ekonomi yang kuat, menekankan pentingnya menjaga kepercayaan investor dan stabilitas di tengah ketidakpastian global. Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus berkoordinasi erat untuk memastikan kebijakan yang pruden dan adaptif guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga

Ikuti Kami

Tags

Tinggalkan komentar