Poros Informasi – Gejolak di pasar modal Indonesia pekan lalu, yang ditandai dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ternyata memicu reaksi keras dari pucuk pimpinan negara. Presiden Prabowo Subianto dilaporkan menunjukkan kemarahan yang mendalam atas insiden tersebut, dengan sorotan utama tertuju pada isu transparansi yang dinilai mengikis kepercayaan investor terhadap pasar modal Tanah Air.
Gejolak Pasar Modal dan Reaksi Istana

Peristiwa yang memicu murka Presiden terjadi pada Rabu dan Kamis, 28-29 Januari 2026, ketika IHSG terjun bebas hingga 8 persen dan memicu penghentian perdagangan (trading halt) selama dua hari berturut-turut. Insiden ini, yang mengguncang sentimen pasar, kemudian menjadi perhatian serius di lingkaran Istana.
Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, membeberkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sangat marah dengan situasi ini. Menurut Hashim, kemarahan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan dipicu oleh persoalan transparansi yang berpotensi merusak keyakinan pemodal, baik domestik maupun internasional, terhadap kredibilitas pasar saham Indonesia.
"Kalian semua tahu kan apa yang terjadi minggu lalu? Morgan Stanley, jatuhnya pasar saham, dan saya tidak tahu apakah kalian mengikutinya, tapi itu menjadi topik hangat minggu lalu, kan? Beberapa orang diminta untuk mengundurkan diri," ungkap Hashim, mengindikasikan adanya konsekuensi dari insiden tersebut.
Sorotan pada Transparansi dan Kredibilitas
Hashim lebih lanjut menjelaskan bahwa inti masalahnya terletak pada ketidaktransparanan yang membuat pasar dinilai kurang kredibel. Ia bahkan mengungkap bahwa raksasa investasi global, Morgan Stanley, dilaporkan telah melayangkan empat surat resmi kepada pemerintah Indonesia terkait kondisi ini, menandakan seriusnya kekhawatiran dari pihak luar.
"Dan ada alasannya. Karena tidak ada transparansi, dan ada ketidaktransparanan, itu dianggap sebagai pasar yang tidak transparan. Rupanya, Morgan Stanley mengirim empat surat kepada pemerintah Indonesia," tambahnya.
Dalam pandangannya, dinamika pasar modal sangat bergantung pada kepercayaan dan kredibilitas. Hashim mengaku telah bertemu dengan delapan investor pada awal pekan ini, yang semuanya menyampaikan harapan agar pemerintah dapat menjaga integritas dan kepercayaan pasar. "Inti dari dinamika pasar ini adalah soal kepercayaan dan kredibilitas. Pasar-pasar ini hanya akan berhasil jika ada kepercayaan dan kredibilitas," tegasnya, mengutip aspirasi para investor.
Komitmen Menjaga Kehormatan Bangsa
Menyikapi situasi ini, Hashim menegaskan bahwa pemerintah memiliki komitmen kuat untuk menjaga kehormatan serta reputasi Indonesia di mata pelaku pasar global. Ia menekankan bahwa bagi Presiden Prabowo, kehormatan Republik Indonesia adalah harga mati dan tidak dapat ditawar.
"Pemerintah Indonesia bertekad untuk menjaga kredibilitas dan kehormatan Republik Indonesia. Bagi Pak Prabowo, kehormatan Republik Indonesia sangat penting. Jadi, beliau akan memantau situasi ini dengan seksama dan ketat," ujar Hashim.
Hashim juga secara lugas menyampaikan pesan Presiden Prabowo yang penuh kemarahan. "Jadi, saya mengambil kesempatan ini untuk mengatakan dengan tegas, Presiden Prabowo sangat marah. Beliau marah dengan apa yang terjadi minggu lalu, terutama dengan kehormatan negara kita yang dipertaruhkan. Integritas dan kehormatan bangsa sedang dipertaruhkan," pungkasnya, menggarisbawahi betapa seriusnya Presiden memandang persoalan ini sebagai ancaman terhadap martabat bangsa.






