Revolusi Hijau di Cilegon: Terminal LPG Ini Kunci Masa Depan Energi RI!

Renita

Revolusi Hijau di Cilegon: Terminal LPG Ini Kunci Masa Depan Energi RI!

Poros Informasi – Jakarta – Sebuah langkah progresif yang menandai era baru dalam pengelolaan energi nasional telah resmi bergulir. Terminal LPG Tanjung Sekong di Cilegon, Banten, kini bertransformasi menjadi ‘Green Terminal’, sebuah inisiatif strategis yang digadang-gadang akan memperkuat fondasi praktik Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) serta mengakselerasi pengembangan ekosistem energi rendah karbon di Indonesia. Proyek percontohan ini tidak hanya berorientasi pada efisiensi, namun juga membuka cakrawala peluang bisnis baru yang berlandaskan prinsip keberlanjutan.

Mengapa Transformasi Ini Penting?

Revolusi Hijau di Cilegon: Terminal LPG Ini Kunci Masa Depan Energi RI!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Inisiatif monumental ini, menurut Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, merupakan bagian integral dari visi besar perusahaan untuk mengembangkan ekosistem energi hijau. Lebih jauh, proyek ini menjadi pilar penting dalam implementasi Roadmap Net Zero Emission (NZE) 2060 yang ambisius. "Langkah ini krusial untuk memperkuat daya saing korporasi di tengah gelombang tuntutan global akan praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan," tegas Wicaksono, dalam pernyataannya pada Sabtu (14/2/2026).

Transformasi ini dipandang sebagai respons proaktif terhadap dinamika pasar global yang semakin mengutamakan jejak karbon rendah dan operasional yang bertanggung jawab. Dengan demikian, Terminal LPG Tanjung Sekong tidak hanya memenuhi standar domestik, tetapi juga siap bersaing di arena internasional dengan standar keberlanjutan yang tinggi.

Pilar-Pilar Penopang "Green Terminal"

Konsep "Green Terminal" sendiri bukanlah sekadar label, melainkan sebuah skema sertifikasi komprehensif yang berlandaskan delapan pilar keberlanjutan. Pilar-pilar ini dirancang untuk menciptakan ekosistem operasional yang holistik dan ramah lingkungan, meliputi:

  • Sistem manajemen lingkungan yang ketat.
  • Infrastruktur berstandar internasional yang efisien.
  • Digitalisasi operasional untuk transparansi dan akurasi.
  • Pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.
  • Penerapan prinsip ekonomi sirkuler.
  • Pengendalian kualitas lingkungan yang berkelanjutan.
  • Perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversitas).
  • Penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten.

Penerapan standar ketat ini diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan, tetapi juga memperkokoh posisi sektor energi nasional di kancah global, di mana keberlanjutan kini menjadi tolok ukur utama daya saing.

Peran Strategis Tanjung Sekong

Pemilihan Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai proyek percontohan bukan tanpa alasan. Lokasinya yang strategis menjadikannya tulang punggung infrastruktur energi nasional, dengan kontribusi vital sekitar 35 hingga 40 persen terhadap total kebutuhan LPG domestik. Fasilitas ini memiliki kapasitas penyimpanan impresif sebesar 98.000 metrik ton dan dilengkapi dermaga yang mampu melayani kapal berbobot hingga 65.000 DWT.

Dengan transformasi ini, Tanjung Sekong diharapkan tidak hanya menjadi contoh, tetapi juga memperkuat fondasi keberlanjutan bagi salah satu aset energi paling krusial di Indonesia, menjamin pasokan energi yang stabil sekaligus ramah lingkungan. Langkah Pertamina melalui Terminal LPG Tanjung Sekong ini menegaskan komitmen Indonesia dalam transisi energi menuju masa depan yang lebih hijau. Ini adalah investasi jangka panjang yang tidak hanya menguntungkan lingkungan, tetapi juga memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam ekonomi energi berkelanjutan global.

Baca Juga

Ikuti Kami

Tags

Tinggalkan komentar