Altcoin Season 2026 Makin Dekat? Ini 4 Skenario yang Bisa Jadi Pemicu

Usman

Poros Informasi – Setelah periode panjang di bawah bayang-bayang dominasi Bitcoin, pasar altcoin kini mulai mengirimkan sinyal pemulihan yang menarik perhatian para investor dan analis kripto. Berbagai indikator pasar menunjukkan pergerakan yang selaras, dengan Ethereum (ETH) muncul sebagai aset krusial yang pergerakannya sangat dicermati. Para pengamat industri meyakini bahwa dinamika pasangan ETH/BTC akan menjadi penentu utama apakah ekosistem kripto akan segera memasuki fase "altcoin season" yang telah lama dinanti. Selain itu, perbaikan kondisi makroekonomi global, peningkatan likuiditas, dan kebangkitan beberapa altcoin juga turut memperkuat narasi ini.

Ethereum: Sang Lokomotif Altcoin Menuju Titik Krusial

Altcoin Season 2026 Makin Dekat? Ini 4 Skenario yang Bisa Jadi Pemicu
Gambar Istimewa : news.tokocrypto.com

Skenario pertama yang berpotensi menyulut gelombang altcoin season adalah breakout Ethereum terhadap Bitcoin. Sejak Desember 2021, Ethereum memang cenderung tertinggal dari performa Bitcoin. Namun, tren tersebut kini mendekati area resistensi yang sangat signifikan.

Pasangan ETH/BTC dilaporkan sedang menguji level resistensi jangka panjang di sekitar 0,028. Menariknya, Ethereum juga telah membentuk titik terendah baru terhadap Bitcoin sejak April 2025, menandai periode sekitar 15 bulan. Pola pergerakan ini memiliki kemiripan historis dengan situasi pada tahun 2019, sebelum Ethereum akhirnya mencatat breakout besar di awal 2021 yang kemudian memicu reli altcoin secara masif. Oleh karena itu, banyak analis kini memantau ketat apakah ETH mampu mereplikasi pola serupa.

Analis terkemuka, Michaël van de Poppe, bahkan menyoroti bahwa Ethereum telah mencatat pergerakan berarti terhadap Bitcoin untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun. Ia memprediksi ETH mungkin akan mengalami konsolidasi singkat sebelum melanjutkan momentum kenaikannya.

Namun, perlu dicatat, jika Bitcoin kembali melancarkan reli besar, altcoin masih berpotensi tertahan sementara. Hal ini karena dana pasar biasanya cenderung mengalir terlebih dahulu ke Bitcoin sebagai aset kripto utama.

Angin Segar dari Makroekonomi: Inflasi Rendah Dorong Aset Berisiko

Skenario kedua yang memberikan harapan datang dari lanskap makroekonomi global. Data inflasi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan sinyal positif bagi pasar kripto. Inflasi inti mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari empat tahun terakhir. Bersamaan dengan itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve juga ikut merosot tajam.

Pasca-rilis laporan inflasi tersebut, sejumlah aset berisiko seperti Bitcoin, Ethereum, emas, dan perak kompak menguat. Respons pasar ini mengindikasikan bahwa investor mulai kembali merespons positif potensi kebijakan moneter yang lebih longgar. Inflasi yang lebih rendah dapat meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan, atau setidaknya mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Dalam kondisi seperti ini, aset kripto biasanya mendapat dukungan yang lebih kuat, terutama jika likuiditas mulai kembali mengalir ke pasar.

Likuiditas Global: Katalis Penting Bagi Kebangkitan Kripto

Skenario ketiga berpusat pada pergerakan likuiditas global. Salah satu indikator yang diamati oleh analis adalah suplai uang M2 Jepang, yang secara historis seringkali mendahului pergerakan harga Bitcoin sekitar 84 hari. Jika pola ini kembali berulang, peningkatan likuiditas global dapat menjadi sinyal awal pemulihan pasar kripto yang lebih luas pada paruh kedua tahun 2026.

Selain itu, indeks dolar AS atau DXY juga sedang menguji level resistensi krusial. Jika dolar melemah, kondisi ini dapat mendukung peningkatan likuiditas dan memperkuat minat terhadap aset berisiko seperti kripto. Dalam siklus pasar sebelumnya, likuiditas yang membaik seringkali bertepatan dengan performa aset kripto yang lebih kuat. Oleh karena itu, pelemahan dolar dan meningkatnya suplai likuiditas global dapat menjadi katalis penting bagi altcoin.

Altcoin Mulai Mengejar Ketertinggalan

Skenario keempat adalah mulai pulihnya performa altcoin secara signifikan dibandingkan Bitcoin. Sejak titik terendah pada tahun 2022, Bitcoin telah melonjak hampir 660%, sementara Ethereum dan sebagian besar altcoin baru mulai menunjukkan tanda-tanda mengejar ketertinggalan tersebut.

Data internal pasar juga mulai menunjukkan perbaikan. Performa altcoin terhadap Bitcoin telah pulih sekitar 23% sejak Desember. Sementara itu, altcoin di luar 10 besar berdasarkan kapitalisasi pasar mencatat titik terendah pada Februari dan sudah rebound sekitar 17%.

Tim Research porosinformasi.co.id mengamati bahwa grafik "Others vs Bitcoin" juga mulai menunjukkan pola yang mirip dengan potensi breakout Ethereum. "Ini menunjukkan bahwa sebagian altcoin mulai membangun struktur pemulihan setelah lama tertinggal dari BTC," ungkap mereka.

Meskipun demikian, Bitcoin kemungkinan masih akan memimpin pasar di awal. Namun, jika Ethereum berhasil mencatat breakout yang meyakinkan terhadap Bitcoin, peluang terjadinya altcoin season yang lebih luas dan merata dapat meningkat secara signifikan.

Untuk saat ini, pasar masih menantikan konfirmasi yang lebih jelas. Altcoin season 2026 belum sepenuhnya terbentuk, tetapi kombinasi penguatan Ethereum, inflasi yang lebih rendah, likuiditas global yang membaik, dan pemulihan altcoin secara bertahap dapat menjadi fondasi kuat bagi rotasi pasar berikutnya.


DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset, dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli. porosinformasi.co.id berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar