Saham Asia Ambles, Mungkinkah Aset Digital Jadi Pelarian Investor? Pasar Jepang dan Korea Selatan Tertekan, Kripto Bisa Jadi Pemenang?

Amalia Citra

Amalia Citra

Saham Asia Ambles, Mungkinkah Aset Digital Jadi Pelarian Investor? Pasar Jepang dan Korea Selatan Tertekan, Kripto Bisa Jadi Pemenang?
Saham Asia Ambles, Mungkinkah Aset Digital Jadi Pelarian Investor? Pasar Jepang dan Korea Selatan Tertekan, Kripto Bisa Jadi Pemenang?

Koreksi Tajam di Asia, Aset Digital Diuntungkan?

Poros Informasi – 17 Juli 2026 | Pasar saham Jepang dan Korea Selatan kembali diterpa badai setelah reli yang didorong oleh narasi artificial intelligence (AI) mulai kehilangan momentumnya. Di Korea Selatan, indeks Kospi dilaporkan memasuki fase technical bear market setelah mengalami penurunan lebih dari 20% dari puncaknya bulan lalu. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang juga terpantau melemah pada Jumat, bergerak mendekati level terendah dalam lebih dari sebulan terakhir. Tekanan ini terutama terasa pada saham-saham yang terkait dengan sektor chip dan teknologi, yang sebelumnya menjadi motor penggerak utama reli AI. Di tengah gejolak pasar saham tradisional ini, muncul pertanyaan menarik: di saat Pasar Jepang dan Korea Selatan Tertekan, mungkinkah aset digital atau kripto justru akan menjadi salah satu sektor yang diuntungkan?

Koreksi Kospi dan Nikkei: Cerminan Kehilangan Momentum AI

Koreksi yang dialami Kospi terjadi setelah indeks tersebut mencatat kenaikan impresif sepanjang tahun. Pada puncaknya, Kospi bahkan sempat melonjak 116%, menempatkan Korea Selatan sebagai pasar saham terbesar keenam di dunia. Namun, sebagian besar dari reli ini ternyata ditopang oleh penggunaan leverage yang tinggi. Data menunjukkan posisi leveraged bets di Korea Selatan mencapai rekor 29,2 triliun won, atau sekitar US$19,7 miliar, pada awal Juli. Investor ritel banyak mengalirkan dana ke ETF saham tunggal yang terafiliasi dengan raksasa teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix untuk mendapatkan eksposur ke sektor AI. Ketika sentimen pasar berbalik, leverage yang sebelumnya mempercepat kenaikan kini justru memperbesar tekanan jual.

Beberapa analis membandingkan kondisi ini dengan gejolak pasar saham China pada tahun 2015, di mana utang margin dan euforia investor ritel memicu koreksi besar yang menghapus nilai pasar hingga triliunan dolar. Tekanan serupa juga terlihat di Jepang. Saham-saham teknologi terkemuka seperti Tokyo Electron, Advantest, dan SoftBank Group mengalami pelemahan tajam. Kekhawatiran terhadap valuasi saham AI yang dinilai terlalu tinggi juga turut menekan pasar saham Taiwan.

Jepang dan Korea Selatan Membuka Pintu untuk Aset Digital

Menariknya, di saat pasar saham mereka menghadapi tekanan, Jepang dan Korea Selatan justru mengambil langkah signifikan untuk memperkuat kerangka hukum bagi aset digital. Parlemen Jepang pada 15 Juli lalu mengesahkan amandemen Financial Instruments and Exchange Act. Perubahan krusial dalam aturan ini adalah klasifikasi ulang kripto, yang kini tidak lagi hanya dianggap sebagai alat pembayaran, melainkan sebagai produk keuangan. Dengan klasifikasi ini, kripto mulai disejajarkan dengan instrumen investasi mapan lainnya seperti saham dan obligasi.

Aturan baru di Jepang ini juga mencakup larangan insider trading, kewajiban keterbukaan informasi dari penerbit aset digital, serta ancaman sanksi pidana hingga 10 tahun penjara bagi pelanggar. Lebih lanjut, Jepang juga memperkenalkan rencana pajak flat sebesar 20% untuk kripto yang diperkirakan mulai berlaku Januari 2028, menggantikan tarif sebelumnya yang bisa mencapai sekitar 55%. Kerangka regulasi yang lebih jelas ini juga membuka peluang hadirnya ETF kripto spot domestik di Jepang. Meskipun persetujuan belum pasti, beberapa bursa disebut mulai mengincar listing pertama sekitar tahun 2027.

Di Korea Selatan, pemerintah mengambil langkah berbeda namun tetap progresif melalui National Asset Basic Act. Aturan ini secara resmi mengakui aset digital sebagai bagian dari kekayaan negara, setara dengan aset-aset seperti properti dan kekayaan intelektual. Undang-undang yang merevisi kerangka lama sejak 1950 ini mencakup sekitar 1.400 triliun won aset publik dan juga beragenda untuk memasukkan tokenized government bonds serta security tokens untuk aset real estat milik negara.

Potensi Adopsi Kripto: Peluang di Tengah Ketidakpastian Pasar

Tim Riset Tokocrypto menilai bahwa kombinasi antara tekanan pada pasar saham dan regulasi kripto yang semakin jelas menjadikan Jepang dan Korea Selatan sebagai wilayah yang patut dipantau pergerakannya. Di Jepang, misalnya, total tabungan rumah tangga diperkirakan mendekati US$13 triliun. Jika sebagian kecil saja dari dana tersebut mengalir ke aset digital, dampaknya terhadap pasar kripto bisa menjadi sangat signifikan.

Namun, belum ada jaminan bahwa koreksi pasar saham akan secara otomatis mengarahkan investor untuk beralih ke kripto. Investor yang baru saja mengalami kerugian akibat leverage di sektor AI mungkin akan cenderung mencari aset yang lebih aman daripada mengambil risiko di pasar kripto yang masih dikenal volatil. Meskipun demikian, regulasi yang lebih jelas tidak serta merta menciptakan permintaan besar secara instan. Namun, aturan baru ini dapat membangun fondasi yang penting untuk partisipasi institusional dalam jangka panjang.

Untuk saat ini, Jepang dan Korea Selatan menunjukkan pola yang menarik. Ketika pasar saham teknologi global menghadapi tekanan, kedua negara justru berupaya memperkuat infrastruktur hukum untuk aset digital. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Pasar Jepang dan Korea Selatan Tertekan justru akan membuka jalan bagi aset kripto untuk mendapatkan tempat yang lebih besar dalam lanskap keuangan Asia, menjadikan Pasar Jepang dan Korea Selatan Tertekan, Kripto Bisa Jadi Pemenang? sebagai pertanyaan yang semakin relevan.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tinggalkan komentar