Poros Informasi – Harga Hedera (HBAR) kembali menjadi sorotan tajam di kalangan investor dan analis kripto menyusul munculnya pembahasan mengenai potensi rilis token dalam jumlah besar pada kuartal ketiga tahun 2026. Berdasarkan Laporan Manajemen Perbendaharaan Hedera, sekitar 4,07 miliar HBAR dijadwalkan untuk didistribusikan pada periode tersebut. Tim Riset porosinformasi.co.id mengidentifikasi bahwa sekitar 3,88 miliar HBAR dari jumlah tersebut dialokasikan untuk program pengembangan ekosistem, dengan sebagian besar ditujukan kepada Hedera Foundation. Dengan estimasi nilai mencapai US$268 juta, rilis ini berpotensi menjadi salah satu agenda suplai terbesar yang sangat diawasi oleh para pemegang HBAR.
Namun, para analis kripto terkemuka dengan tegas menyatakan bahwa istilah "dirilis" (released) tidak serta-merta berarti token tersebut akan langsung membanjiri pasar dan menciptakan tekanan jual instan. Ada nuansa penting yang sering kali terlewatkan dalam interpretasi data ini.

Membongkar Mitos "Rilis Token = Tekanan Jual Langsung"
Definisi "Rilis" yang Sering Disalahpahami
Menurut pandangan analis, definisi "dirilis" dalam laporan Hedera merujuk pada perpindahan token dari akun yang dikendalikan oleh Hedera Council ke akun entitas lain, seperti Hedera Foundation. Setelah berpindah tangan, token-token ini masih memiliki kemungkinan untuk disimpan selama berbulan-bulan atau bahkan beberapa kuartal sebelum benar-benar digunakan, dialokasikan, atau dijual ke pasar terbuka.
Pemahaman ini krusial karena banyak pelaku pasar kerap menyamakan "token release" dengan tekanan jual langsung, yang dapat memicu kepanikan. Padahal, dalam konteks Hedera, rilis token belum tentu secara langsung meningkatkan suplai aktif yang diperdagangkan di pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa dampak langsung terhadap harga mungkin tidak secepat yang dibayangkan.
Ambiguitas Jaringan Terkait Suplai Beredar
Para analis juga menyoroti fakta bahwa Hedera tidak secara resmi menggunakan atau mendefinisikan istilah "circulating supply" (suplai beredar) secara eksplisit. Akibatnya, data suplai yang ditampilkan oleh berbagai platform pelacak harga kripto bisa memiliki definisi dan metodologi perhitungan yang berbeda-beda, menyebabkan kebingungan dan potensi salah tafsir di kalangan investor.
Jejak Sejarah: Proyeksi vs. Realita Distribusi
Pola Distribusi yang Tak Terduga
Laporan dari Coinpedia menyebutkan bahwa jika rilis 4,07 miliar HBAR benar-benar terjadi, ini akan menjadi rilis kuartalan terbesar kedua dalam sejarah Hedera, setelah Q1 2023. Namun, riwayat distribusi sebelumnya menunjukkan bahwa proyeksi rilis token tidak selalu sejalan dengan perpindahan aktual token ke pasar.
Sebagai contoh, pada Q2, Hedera sempat memproyeksikan rilis sekitar 4 miliar HBAR, namun yang benar-benar bergerak hanya 186 juta HBAR. Pada kuartal sebelumnya, proyeksi mencapai 3,72 miliar HBAR, sementara pergerakan aktual hanya sekitar 383 juta HBAR. Pola ini memunculkan dua kemungkinan interpretasi dari para analis: Pertama, Hedera Foundation mungkin sengaja memperlambat distribusi untuk memitigasi tekanan jual jangka pendek. Kedua, kolom proyeksi dalam laporan perbendaharaan belum tentu menjadi indikator yang akurat mengenai jumlah token yang akan benar-benar beredar.
Hampir Habisnya Cadangan Treasury Hedera
Apabila proyeksi terbaru terealisasi sepenuhnya, sekitar 47,5 miliar dari total 50 miliar HBAR yang telah dicetak di awal (pre-mined) akan terdistribusi. Ini berarti hanya sekitar 2,4 miliar HBAR, atau kurang dari 5%, yang masih belum dirilis. Meskipun demikian, jadwal distribusi awal Hedera dirancang untuk berlangsung hingga sekitar tahun 2033. Selain itu, Hedera hanya mempublikasikan proyeksi satu kuartal ke depan, sehingga menyulitkan untuk memastikan pola distribusi jangka panjang secara komprehensif.
Meluruskan Narasi Reli HBAR: Bukan Karena Rilis Token
Kronologi yang Membantah Klaim
Para analis juga dengan tegas membantah narasi yang mengklaim bahwa rilis token sebelumnya pernah memicu reli HBAR sebesar 700%. Memang benar, harga HBAR sempat melonjak signifikan dari sekitar US$0,05 menjadi US$0,39 pada periode September hingga Desember 2024.
Namun, rilis 3,97 miliar HBAR yang sering dikaitkan dengan reli tersebut justru terjadi setelahnya, yaitu pada Q1 2025. Ironisnya, setelah rilis tersebut, HBAR kemudian mengalami koreksi tajam sekitar 83% dan kembali ke area US$0,0612. Dengan demikian, klaim bahwa distribusi token menjadi pemicu langsung reli besar HBAR dinilai tidak sesuai dengan urutan data historis yang sebenarnya terjadi.
Ujian Sesungguhnya: Kemandirian Jaringan Melalui Pendapatan Fee
Pendapatan Jaringan yang Masih Minim
Di luar isu suplai token, pertanyaan fundamental terbesar bagi Hedera adalah apakah jaringan ini mampu membiayai operasionalnya sendiri melalui pendapatan dari biaya transaksi (fee). Saat ini, biaya jaringan Hedera diperkirakan sekitar US$1.354 per hari, atau sekitar US$1,5 juta per tahun.
Angka ini masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar HBAR yang berada di kisaran US$3 miliar. Penting juga untuk dicatat bahwa biaya jaringan Hedera tidak dibakar (burned), melainkan didistribusikan untuk staking rewards, node rewards, dan perbendaharaan jaringan. Pada bulan Januari, Hedera sempat menaikkan salah satu biaya transaksi utama dari 0,1 menjadi 0,8 untuk meningkatkan keberlanjutan jangka panjang.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Meskipun demikian, analis tetap membuka kemungkinan skenario bullish bagi HBAR. Token yang dirilis tidak selalu langsung dijual, dan pendapatan dari biaya transaksi dapat tumbuh secara signifikan jika aktivitas jaringan meningkat pesat.
Namun, inti permasalahannya tetap sama. Setelah bertahun-tahun mengandalkan cadangan perbendaharaan (treasury) untuk mendukung operasional dan pengembangan ekosistem, Hedera perlu membuktikan bahwa aktivitas jaringannya mampu menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menopang keberlanjutan jangka panjangnya secara mandiri.
Untuk saat ini, prospek HBAR masih sangat bergantung pada dua faktor utama: bagaimana distribusi token benar-benar terjadi pada Q3 2026, dan apakah penggunaan jaringan mampu tumbuh cukup kuat untuk mengimbangi kekhawatiran seputar dinamika suplai yang akan datang.






