Poros Informasi – 24 Juli 2026 | Di tengah volatilitas pasar yang terus membayangi, pertanyaan krusial muncul: Bitcoin Masih Bisa Tembus US$180.000? Peluang Belum Hilang. Sebagian analis berpendapat bahwa kondisi pasar saat ini, yang diwarnai oleh sentimen negatif, justru merupakan momen emas bagi investor untuk melakukan akumulasi. Lawrence Lepard, seorang investor kawakan, menyoroti bahwa ketakutan yang melanda pasar terhadap Bitcoin dan perusahaan seperti MicroStrategy tidak serta-merta menandakan berakhirnya tren bullish.
Dalam sebuah diskusi bersama Michaël van de Poppe, Lepard menjelaskan fenomena umum di pasar aset digital. Investor kerap kali menunjukkan reaksi negatif saat harga mengalami penurunan. Namun, bagi para investor yang memiliki pandangan jangka panjang, valuasi yang lebih terjangkau justru membuka pintu peluang masuk yang lebih menarik. Lepard optimis bahwa Bitcoin masih memiliki potensi besar untuk mencapai level tertinggi baru dalam kurun waktu 18 bulan ke depan. Ia bahkan memproyeksikan BTC dapat meroket hingga ke kisaran US$180.000, dengan estimasi nilai median berdasarkan hukum pangkat (power-law) berada di sekitar US$134.000.
Pandangan optimis ini, menurut Tim Research Tokocrypto, didasarkan pada fundamental suplai Bitcoin yang sangat terbatas dan potensi lonjakan permintaan yang diperkirakan akan terjadi pada siklus pasar berikutnya. Lepard menarik paralel dengan kondisi pasar pada tahun 2020, di mana Bitcoin sempat mengalami periode stagnasi selama beberapa bulan sebelum akhirnya melesat naik hampir lima kali lipat. Ia meyakini pola serupa dapat terulang kembali.
Emas Sebagai Indikator Awal Pergerakan Pasar
Lebih lanjut, Lepard mengemukakan bahwa emas cenderung menjadi aset yang lebih dulu merespons kekhawatiran global terhadap pelemahan nilai mata uang atau ‘monetary debasement’. Hal ini disebabkan oleh pasar emas yang lebih besar, lebih dalam, dan telah lama diakui sebagai aset lindung nilai yang andal. Bitcoin, menurutnya, seringkali menyusul pergerakan emas, namun dengan intensitas yang jauh lebih besar.
Ia memberikan contoh periode di mana emas mengalami kenaikan signifikan dari sekitar US$1.300 menjadi US$2.000, sementara Bitcoin masih bergerak relatif stagnan. Namun, tak lama setelah itu, Bitcoin menunjukkan performa luar biasa dengan melompat dari kisaran US$10.000 ke US$50.000. Lepard berpendapat bahwa pola serupa berpotensi terulang jika likuiditas global dan pertumbuhan suplai uang M2 mulai memberikan angin segar bagi aset berisiko. Dengan kata lain, jika emas mulai menguat sebagai respons terhadap kekhawatiran nilai fiat, Bitcoin diprediksi akan mengikuti dengan pergerakan yang lebih agresif.
Faktor Penekan Bitcoin dan Proyeksi Jangka Panjang
Menolak pandangan bahwa pelemahan Bitcoin saat ini semata-mata disebabkan oleh siklus empat tahunan, Lepard mengidentifikasi beberapa faktor lain yang turut menarik modal keluar dari BTC. Arus dana yang mengalir deras ke sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan perusahaan teknologi besar seperti SpaceX menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, sebagian pasar mulai menganggap narasi ‘monetary debasement’ telah mereda.
Tahun lalu, emas, perak, dan Bitcoin sama-sama diuntungkan oleh kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang. Namun, inflasi yang lebih tinggi, kenaikan harga minyak, serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve membuat investor kembali yakin bahwa suku bunga akan bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini secara alami menekan minat investor terhadap aset alternatif seperti Bitcoin, yang cenderung kurang menarik di lingkungan suku bunga tinggi karena tidak menghasilkan imbal hasil (yield).
Meskipun demikian, Lepard menilai pandangan tersebut keliru dalam perspektif jangka panjang. Ia menekankan bahwa disiplin fiskal pemerintah belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Kegagalan departemen terkait untuk mencapai target penghematan yang dijanjikan sebelumnya justru semakin memperkuat kekhawatirannya terhadap defisit pemerintah yang terus berlanjut. Dalam konteks ini, Lepard melihat Bitcoin sebagai representasi kemandirian finansial dan bentuk penolakan terhadap sistem moneter tradisional.
Ia berargumen bahwa pemerintah kemungkinan tidak akan secara sukarela mengadopsi standar uang yang lebih ketat karena dapat mengurangi kekuasaan mereka atas sistem keuangan. Namun, jika tren utang terus meningkat dan penciptaan uang terus berlanjut, dunia pada akhirnya mungkin akan menghadapi kebutuhan untuk melakukan ‘reset’ moneter besar-besaran. Dalam skenario seperti itu, Bitcoin tetap menjadi aset lindung nilai jangka panjang yang krusial terhadap risiko pelemahan mata uang fiat. Dengan suplai yang tetap terbatas dan potensi permintaan yang terus meningkat, BTC masih memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi jika kondisi makroekonomi global kembali mendukung.
Untuk saat ini, sentimen pasar yang negatif memang masih memberikan tekanan pada harga Bitcoin. Namun, menurut Lepard, fase pasar seperti ini justru bisa menjadi momen berharga bagi investor kontrarian untuk mulai mengumpulkan aset sebelum gelombang reli berikutnya terjadi. Meskipun target US$180.000 belum menjadi kepastian mutlak, analis tersebut menegaskan bahwa skenario bullish untuk Bitcoin masih tetap terbuka lebar, selama narasi suplai terbatas, potensi pertumbuhan likuiditas, dan risiko pelemahan fiat tetap relevan.







