Geopolitik Memanas, Strategi Hilirisasi RI Jadi Kunci!

Renita

Geopolitik Memanas, Strategi Hilirisasi RI Jadi Kunci!

Poros Informasi – Dinamika geopolitik global yang kian tidak menentu serta pergeseran konstelasi ekonomi dunia memaksa setiap negara untuk memperkuat ketahanan nasionalnya. Menanggapi situasi tersebut, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa Indonesia harus mengambil langkah strategis melalui penguatan program hilirisasi dan percepatan transisi energi bersih.

Langkah ini dinilai krusial agar pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri tidak lagi rentan terhadap fluktuasi dan ketidakpastian kondisi global yang sering kali sulit diprediksi.

Geopolitik Memanas, Strategi Hilirisasi RI Jadi Kunci!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Menjaga Kedaulatan Energi di Tengah Ketidakpastian Global

Bahlil menjelaskan bahwa perubahan peta kekuatan dunia saat ini menuntut adanya kemandirian ekonomi yang kuat. Menurutnya, transisi menuju energi bersih bukan sekadar tren global, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Kita menyadari bahwa dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu serta dinamika ekonomi dunia yang terus berubah, tuntutan terhadap energi bersih menjadi semakin nyata," ungkap Bahlil saat memberikan keterangan di Kementerian ESDM, Kamis (1/10/2026).

Ia menambahkan bahwa penguatan sektor hilirisasi akan menjadi tameng bagi Indonesia dalam menghadapi guncangan ekonomi internasional. Dengan mengolah sumber daya alam di dalam negeri, nilai tambah ekonomi akan tetap berputar di dalam negeri, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global.

Sinergi Hilirisasi dan Komitmen Iklim Dunia

Kebijakan ini bukan tanpa alasan kuat. Bahlil mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan hilirisasi dan transisi energi sebagai agenda prioritas nasional. Program ini tidak hanya bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai bentuk kepatuhan Indonesia terhadap komitmen internasional, yakni Paris Agreement.

Namun, Bahlil memberikan catatan penting bahwa kedua agenda besar ini tidak boleh dikelola secara terpisah atau parsial. Ia menekankan pentingnya integrasi kebijakan agar target yang telah dicanangkan pemerintah dapat tercapai secara optimal.

"Ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus ada koordinasi yang komprehensif, terukur, dan benar-benar diwujudkan sesuai dengan target yang diperintahkan oleh Bapak Presiden," tegasnya.

Menanti Langkah Strategis Pasca Pelantikan

Meski telah mengemban amanah sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil masih enggan membuka kartu mengenai proyek-proyek strategis apa saja yang akan menjadi fokus utama dalam waktu dekat. Ia menyatakan bahwa langkah teknis dan detail program kerja akan disusun setelah ia melakukan koordinasi intensif dengan kepala negara.

"Setelah ini, saya akan melapor terlebih dahulu kepada Bapak Presiden sebelum resmi dilantik. Setelah itu, barulah program kerja akan disampaikan lebih lanjut," tutup Bahlil.

Langkah Bahlil ini menandakan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan peta jalan (roadmap) yang matang untuk memastikan bahwa transisi energi tidak akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi, melainkan justru menjadi mesin penggerak baru bagi kemakmuran Indonesia di masa depan.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar