Rahasia Listrik Murah Dunia: Bukan Fosil, Tapi EBT!

Renita

Poros Informasi – Jakarta – Sebuah fakta mengejutkan diungkapkan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengenai dinamika harga energi global. Menurutnya, negara-negara yang telah mengadopsi dan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam skala besar justru menikmati harga listrik yang jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan negara-negara yang masih sangat bergantung pada sumber energi tidak terbarukan. Pernyataan ini disampaikan dalam gelaran Indo EBTKE ConEx and Exhibition ke-12 di JIExpo Kemayoran, pada Rabu (2/9/2026), menyoroti potensi EBT bukan hanya sebagai solusi transisi energi, melainkan juga pendorong utama daya saing ekonomi dan industri.

Revolusi Energi: EBT Dorong Daya Saing Industri

Rahasia Listrik Murah Dunia: Bukan Fosil, Tapi EBT!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa fenomena ini mengindikasikan EBT memiliki dampak ganda yang strategis. Selain mendukung agenda global menuju keberlanjutan dan mitigasi perubahan iklim, EBT juga secara langsung memengaruhi struktur biaya listrik nasional dan, pada gilirannya, daya saing sektor industri. "Negara-negara yang memanfaatkan energi baru terbarukan dengan kapasitas yang cukup besar, harga energinya itu justru sangat rendah. Sementara negara-negara yang lebih dominan menggunakan bahan bakar yang tidak terbarukan, itu justru harga energinya relatif lebih besar," tegas Yuliot. Ia menambahkan, harga energi yang lebih rendah berfungsi sebagai katalisator krusial bagi pertumbuhan industri, memungkinkan sektor manufaktur berkembang lebih pesat, efisien, dan inovatif.

Studi Kasus Pakistan: Bukti Nyata Efisiensi EBT

Untuk memperkuat argumennya, Wamen ESDM memberikan contoh konkret dari Pakistan. Negara tersebut, dengan kapasitas listrik terpasang sekitar 50 GW, memiliki porsi energi rendah karbon yang signifikan dalam bauran energinya. Sekitar 17 GW berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan lebih dari 17 GW dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Komposisi ini memungkinkan Pakistan untuk menawarkan harga listrik yang sangat terjangkau kepada masyarakatnya, yakni sekitar 6 sen dolar AS per kWh.

Dampak positif dari kebijakan energi ini langsung terasa pada perekonomian lokal. "Dengan murahnya harga listrik di Pakistan, industri-industri manufaktur di Pakistan itu justru dikerjakan oleh masyarakat, skalanya adalah usaha mikro kecil," papar Yuliot. Ini menunjukkan bagaimana ketersediaan energi yang terjangkau dapat memberdayakan masyarakat di tingkat akar rumput.

Implikasi Ekonomi: Energi Murah, Industri Tumbuh

Kasus Pakistan secara gamblang memperlihatkan korelasi erat antara ketersediaan energi yang terjangkau dengan geliat aktivitas ekonomi dan industri. Harga energi yang lebih rendah tidak hanya mengurangi beban operasional bagi perusahaan besar, tetapi juga membuka peluang emas bagi masyarakat untuk merintis dan mengembangkan kegiatan manufaktur, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ini menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya saing, di mana inovasi dan produksi dapat berkembang tanpa terbebani oleh biaya energi yang tinggi. Potensi EBT sebagai motor penggerak ekonomi masa depan, yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan, semakin jelas terlihat di panggung global.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar