Revolusi Ekonomi Gunungkidul: Limbah Ternak Jadi Sumber Cuan!

Renita

Poros Informasi – Apa yang selama ini dianggap sebagai limbah tak berguna, kini bertransformasi menjadi mesin pencetak cuan bagi masyarakat di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebuah inovasi cerdas berhasil menyulap kotoran ternak menjadi sumber pendapatan signifikan, sekaligus mendorong praktik ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Mengubah Tantangan Menjadi Peluang Emas

Revolusi Ekonomi Gunungkidul: Limbah Ternak Jadi Sumber Cuan!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Inisiatif transformatif ini digerakkan oleh Kelompok Tani di dua kalurahan, yakni Gombang dan Karangasem, yang terletak di Kepanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Mereka tidak hanya melihat limbah peternakan sebagai masalah, melainkan sebagai bahan baku potensial untuk produk bernilai ekonomi tinggi.

Data hingga pertengahan tahun 2026 menunjukkan capaian yang mengesankan: produksi pupuk organik mencapai sekitar 14 ton. Dari volume tersebut, tercipta nilai ekonomi sebesar Rp15,4 juta, dengan masing-masing kelompok tani meraup tambahan pendapatan sebesar Rp7,7 juta. Lebih dari itu, program ini juga berpotensi menghemat biaya pembelian pupuk bagi masyarakat hingga Rp75,6 juta, sebuah angka yang substansial bagi keberlanjutan pertanian lokal.

Inisiatif Berkelanjutan dari PLN EPI

Di balik keberhasilan ini, terdapat peran krusial dari PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk ‘Desa Berdaya Energi’. Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menjelaskan bahwa inisiatif pengembangan pupuk organik ini adalah pilar strategis perusahaan untuk mewujudkan desa-desa yang mandiri energi dan ekonomi, seraya tetap menjaga kelestarian lingkungan.

"Kami di PLN EPI berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat agar dapat melihat limbah sebagai aset berharga. Pendekatan ini tidak sekadar menaikkan taraf hidup, melainkan juga mengukuhkan konsep ekonomi sirkular yang harmonis antara pertumbuhan ekonomi, dampak sosial, dan perlindungan lingkungan," tegas Mamit dalam pernyataan resminya kepada Poros Informasi, Minggu (19/6/2026).

Lebih lanjut, Mamit memaparkan bahwa program ini didesain sebagai sebuah ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan. Siklusnya dimulai dari pengolahan limbah peternakan menjadi pupuk organik berkualitas. Pupuk tersebut kemudian menjadi nutrisi vital bagi budidaya tanaman multifungsi seperti Indigofera, Kaliandra, dan Jatiputih. Menariknya, dedaunan dari tanaman ini kembali dimanfaatkan sebagai pakan ternak, menutup siklus dan menciptakan efisiensi ganda.

Dampak Ganda: Kesejahteraan dan Lingkungan

Siklus ekonomi yang tertutup ini tidak hanya berimplikasi pada peningkatan efisiensi operasional bagi masyarakat petani dan peternak, tetapi juga secara signifikan mereduksi volume limbah. Pada saat yang sama, produktivitas sektor pertanian dan peternakan di wilayah tersebut turut mengalami penguatan.

Keberhasilan ini menjadi testimoni nyata bahwa dengan inovasi dan dukungan yang tepat, pengelolaan limbah ternak dapat berevolusi menjadi sebuah model bisnis produktif yang secara holistik mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pertanian berkelanjutan. Program ‘Desa Berdaya Energi’ yang digagas PLN EPI sejak tahun 2024 melalui skema TJSL ini, menjadi mercusuar harapan bagi pengembangan ekonomi pedesaan yang ramah lingkungan dan berdaya saing.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar