Rupiah Terancam Anjlok ke Rp17.950, Apa Penyebabnya?

Renita

Rupiah Terancam Anjlok ke Rp17.950, Apa Penyebabnya?

Poros Informasi – Mata uang Garuda diprediksi bakal menghadapi tekanan berat dalam perdagangan hari ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan bergerak melemah, terjepit di antara ketidakpastian ekonomi global dan beban biaya energi dalam negeri yang kian membengkak.

Tekanan Ganda: Inflasi AS dan Beban Impor Energi

Rupiah Terancam Anjlok ke Rp17.950, Apa Penyebabnya?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kondisi pasar valuta asing saat ini menunjukkan kecenderungan pelaku pasar untuk mengambil sikap defensif. Hal ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari luar negeri serta kebutuhan devisa domestik yang meningkat untuk menutupi biaya pengadaan energi.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan catatan kritis mengenai pergerakan rupiah hari ini. Menurutnya, volatilitas akan menjadi pemandangan utama di pasar menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

"Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS," ungkap Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Ia menambahkan bahwa kecemasan pasar terhadap prospek kenaikan inflasi di AS serta beban devisa untuk impor minyak yang terus melonjak menjadi faktor utama yang menekan stabilitas rupiah.

Menanti Data Inflasi AS yang Krusial

Fokus utama para investor di pasar keuangan internasional kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat. Data ini dianggap sebagai kompas utama bagi kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.

Berdasarkan konsensus pasar, terdapat ekspektasi bahwa CPI utama untuk periode September akan mengalami lonjakan sebesar 0,6 persen secara bulanan (month-on-month). Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi pada bulan Agustus yang berada di level 0,4 persen.

Jika prediksi ini terbukti benar, inflasi tahunan diperkirakan akan merangkak naik menuju 3,7 persen dari posisi sebelumnya di angka 3,4 persen. Lonjakan inflasi ini dikhawatirkan akan memaksa bank sentral AS untuk tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Selain rilis data inflasi, perhatian pasar juga tertuju pada agenda pertemuan lembaga keuangan internasional di kawasan Asia Tenggara yang dijadwalkan pada akhir pekan ini. Pertemuan tersebut diprediksi akan menjadi katalis penting yang menentukan arah pergerakan mata uang global, termasuk nasib rupiah di masa mendatang.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar