Poros Informasi – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, secara tegas mematok target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,0 persen pada tahun 2027, dengan inflasi yang terkendali di kisaran 2,5 persen. Ambisi ini dicanangkan di tengah lanskap perekonomian global yang masih diselimuti ketidakpastian, mulai dari gejolak di rantai pasok energi, tantangan logistik, dinamika perdagangan internasional, hingga volatilitas pasar keuangan.
Untuk merealisasikan lonjakan ekonomi 6% ini, Airlangga menggariskan tiga prasyarat struktural yang fundamental. Pernyataan ini disampaikannya dalam forum bergengsi HSBC Summit 2026: Mobilising Growth In a New Global Order di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Target Ambisius di Tengah Gejolak Global
Airlangga menegaskan bahwa pencapaian target pertumbuhan 6,0 persen dengan inflasi 2,5 persen bukanlah tanpa syarat. "Untuk tahun 2027, kami menargetkan pertumbuhan sebesar 6,0 persen, inflasi 2,5 persen. Tiga kondisi harus terpenuhi," jelasnya, merujuk pada pilar-pilar utama yang akan menopang kinerja ekonomi nasional.
Ketidakpastian global yang terus membayangi menuntut strategi yang komprehensif dan adaptif. Fluktuasi harga komoditas, disrupsi pasokan, serta ketegangan geopolitik menjadi faktor eksternal yang harus diantisipasi dengan kebijakan domestik yang kuat dan terarah.
Tiga Pilar Utama Penopang Pertumbuhan
Tiga prasyarat yang digariskan Menko Airlangga merupakan fondasi krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkualitas:
- Pertumbuhan Investasi Melampaui Pertumbuhan PDB: Ini mengindikasikan perlunya peningkatan kapasitas produksi dan penciptaan lapangan kerja baru yang masif. Investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, harus menjadi motor utama yang mendorong ekspansi ekonomi, bukan sekadar mengikuti laju PDB.
- Produktivitas per Pekerja yang Lebih Tinggi: Peningkatan produktivitas adalah kunci daya saing. Ini menuntut investasi pada sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan vokasi, adopsi teknologi, serta efisiensi dalam proses produksi di berbagai sektor.
- Ekspor Bernilai Tambah Lebih Tinggi dengan Dukungan Logistik yang Efisien: Indonesia harus bergeser dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pengekspor produk olahan dengan nilai tambah yang signifikan. Hal ini harus didukung oleh sistem logistik yang modern dan efisien untuk memastikan produk-produk Indonesia mampu bersaing di pasar global dengan biaya yang kompetitif.
Fondasi Ekonomi Domestik yang Kokoh
Optimisme pemerintah dalam menetapkan target ini tidak lepas dari kinerja fundamental ekonomi domestik yang tetap solid. Sepanjang semester I-2026, perekonomian Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan impresif sebesar 5,45 persen secara tahunan (year-on-year). Capaian ini menempatkan Indonesia di jajaran negara dengan kinerja terbaik di antara anggota G20, sebuah indikasi resiliensi di tengah tekanan global.
Indikator makroekonomi lainnya juga menunjukkan tren positif. Tingkat inflasi pada Agustus 2026 berada di angka 3,19 persen, menunjukkan keberhasilan menjaga stabilitas harga. Angka kemiskinan berhasil ditekan hingga 8,07 persen, sementara rasio Gini berada di posisi 0,368, mengindikasikan perbaikan distribusi pendapatan. Tingkat pengangguran juga melandai ke 4,65 persen, mencerminkan peningkatan penyerapan tenaga kerja.
Optimisme Berbasis Data
Dari sisi pembiayaan, kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap tinggi. Lembaga pemeringkat kredit internasional S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Ini adalah sinyal positif bagi pasar keuangan global, menegaskan stabilitas fiskal dan prospek ekonomi jangka panjang Indonesia. Data-data ini menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk merancang strategi pertumbuhan yang lebih ambisius.
Menuju Visi Ekonomi 8% di 2029
Penetapan target 6,0 persen di 2027 ini merupakan bagian dari peta jalan yang lebih besar, yakni visi pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029. Untuk memuluskan lintasan menuju visi tersebut, pemerintah mengoptimalkan konvergensi kebijakan fiskal dan moneter.
Selain itu, keterlibatan aktif lembaga investasi seperti Danantara dan peran krusial sektor swasta juga menjadi kunci. Sinergi antara pemerintah, bank sentral, lembaga keuangan, dan pelaku usaha diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang kondusif untuk mencapai target-target ambisius tersebut. Upaya kolaboratif ini menjadi penentu utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi global yang tangguh dan berkelanjutan.






