Poros Informasi – Pasar kripto kembali dihadapkan pada turbulensi, dengan harga Bitcoin (BTC) yang terperosok di bawah tekanan jual. Penurunan ini terjadi seiring anjloknya indeks Nasdaq-100 ke level terendah dalam 11 minggu terakhir, memicu kekhawatiran serius di kalangan investor terkait masifnya pengeluaran perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Korelasi Bitcoin dan Saham Teknologi Semakin Nyata

Tim Riset Poros Informasi mencatat bahwa pada 25 Juli, Bitcoin mengalami pelemahan signifikan sebesar 2,49%, diperdagangkan di kisaran US$63.956 dengan volume harian mencapai US$22,84 miliar. Fenomena ini sekali lagi menyoroti eratnya korelasi antara pergerakan harga Bitcoin dengan saham-saham sektor teknologi. "Saat investor mulai menarik diri dari eksposur terhadap saham teknologi karena kekhawatiran belanja AI yang membengkak, Bitcoin sebagai salah satu aset berisiko tinggi turut merasakan dampaknya," demikian analisis dari Tim Riset Poros Informasi.
Nasdaq-100 Terjun Bebas: Kekhawatiran Belanja AI Memuncak
Data dari TradingView, seperti yang dikutip Coingape, menunjukkan bahwa indeks Nasdaq-100 menutup perdagangan pada 24 Juli di level 28.128, sebuah titik terendah yang belum terlihat sejak 5 Mei. Tekanan terhadap indeks saham teknologi ini bukan tanpa alasan. Para investor mulai mempertanyakan keberlanjutan investasi besar-besaran perusahaan teknologi dalam riset dan pengembangan AI. Spekulasi muncul bahwa pengeluaran fantastis ini berpotensi menguras arus kas dan meningkatkan beban utang, terutama jika belum mampu menghasilkan keuntungan riil dalam waktu dekat.
Peter Andersen, CEO Andersen Capital Management, secara lugas menyatakan bahwa pasar kini menuntut jawaban: kapan investasi AI yang membengkak ini akan benar-benar berbuah profit? Keraguan inilah yang kemudian memicu aksi jual pada saham-saham teknologi, dan secara domino, menyeret Bitcoin yang dalam beberapa waktu terakhir kerap bergerak seirama dengan aset-aset pertumbuhan.
Analisis Teknis: Bitcoin Berjuang di Ambang Batas Krusial
Secara perspektif teknikal, Bitcoin masih berhadapan dengan tembok resistance yang kokoh di area Exponential Moving Average (EMA) 200-minggu, yang berada di sekitar US$68.284. Sejak awal Juni, tepatnya pada 1 Juni, BTC belum berhasil menembus dan bertahan di atas level krusial ini.
Level Resistance dan Support yang Perlu Dipantau
Indikator histogram volume yang kembali menunjukkan warna merah mengisyaratkan peningkatan tekanan jual. Ini kemungkinan besar berasal dari aksi ambil untung (profit-taking) setelah Bitcoin sempat menyentuh area US$66.900 pada 21 Juli. Selama Bitcoin belum mampu menutup harga di atas EMA 200-minggu, peluang untuk menyaksikan tren naik yang lebih kuat (uptrend) akan tetap tertahan. Level ini berfungsi sebagai penentu penting untuk mengonfirmasi apakah Bitcoin dapat melepaskan diri dari cengkeraman tekanan jangka menengah.
Meskipun indikator Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar angka 39, mengindikasikan momentum yang cenderung bearish, ada secercah harapan. RSI mulai membentuk ‘higher low’, sebuah pola yang bisa diartikan sebagai sinyal awal melemahnya dominasi tekanan jual dari para ‘bear’. Namun, jika Bitcoin gagal menembus resistance EMA 200-minggu dan tekanan jual terus mendominasi, harga berisiko kembali meluncur menuju support psikologis di US$60.000.
Permintaan Institusional Meredup: Ancaman Ganda bagi Bitcoin
Selain tekanan yang datang dari pasar saham teknologi, minat institusional terhadap Bitcoin juga menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Data dari SoSoValue mengungkapkan bahwa produk Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot hanya mencatat aliran masuk (inflow) sebesar US$33 juta selama periode 20-24 Juli. Angka ini merupakan inflow mingguan terendah dalam tiga minggu terakhir, sebuah indikasi bahwa ‘whale’ dan investor institusional mulai menahan diri.
Dampak Kenaikan Yield Obligasi AS
Pelemahan minat terhadap ETF Bitcoin ini bertepatan dengan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang mencapai 4,71%, level tertinggi sejak Januari 2025. Ketika yield obligasi pemerintah yang dianggap sebagai aset ‘safe haven’ ini meningkat, investor cenderung mengalihkan modal mereka dari aset berisiko tinggi seperti Bitcoin ke instrumen yang menawarkan imbal hasil menarik dengan risiko yang lebih rendah.
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan prospek jangka pendek yang cukup menantang bagi Bitcoin. Untuk memulihkan momentum bullish, BTC perlu kembali menembus area US$68.284 dan mempertahankan volume pembelian yang kuat. Namun, jika tekanan dari Nasdaq-100, kenaikan yield obligasi AS, dan potensi outflow dari ETF terus berlanjut, Bitcoin masih berisiko menguji area support krusial di US$60.000 dalam waktu dekat.
Untuk saat ini, pandangan terhadap Bitcoin masih cenderung konservatif dan penuh kehati-hatian. Sentimen makroekonomi yang berasal dari kinerja saham teknologi dan dinamika pasar obligasi menjadi faktor utama yang harus terus dipantau. Selain itu, kemampuan BTC untuk mempertahankan level support penting di tengah meredupnya permintaan institusional akan menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya.
Peringatan Risiko:
Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan fluktuatif. Segala keputusan investasi yang Anda ambil berdasarkan informasi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas potensi kerugian investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk menjual atau membeli aset kripto.






