Poros Informasi – 26 Juli 2026 | JAKARTA – Pasar keuangan global kembali diguncang gejolak, kali ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam seputar belanja besar perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Imbasnya, harga Bitcoin tertekan, sementara indeks saham teknologi raksasa, Nasdaq-100, dilaporkan turun ke level terendah dalam 11 minggu terakhir. Fenomena ini menggarisbawahi korelasi erat antara aset digital dan saham teknologi, di mana sentimen negatif terhadap satu sektor dapat dengan cepat merambat ke sektor lainnya.
Pada penutupan perdagangan 24 Juli, indeks Nasdaq-100 tercatat menyentuh level 28.128, sebuah angka yang belum pernah terlihat sejak awal Mei. Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Para investor kini mulai mempertanyakan keberlanjutan dan efektivitas investasi masif yang digelontorkan perusahaan teknologi dalam riset dan pengembangan AI. Kekhawatiran utama berpusat pada potensi tergerusnya arus kas perusahaan dan peningkatan beban utang, terutama jika keuntungan nyata dari investasi AI belum kunjung terealisasi dalam waktu dekat.
Peter Andersen, CEO Andersen Capital Management, mengemukakan pandangan yang mewakili kegelisahan pasar. “Investor mulai bertanya kapan belanja AI yang besar ini benar-benar dapat berubah menjadi profit,” ujarnya. Pertanyaan mendasar inilah yang kemudian memicu aksi jual saham-saham di sektor teknologi. Sebagai aset yang seringkali bergerak selaras dengan saham teknologi, Bitcoin pun tak luput dari dampak negatifnya. Ketika sentimen terhadap aset-aset growth memburuk, Bitcoin cenderung ikut tertekan.
Tim Research Tokocrypto menganalisa bahwa harga Bitcoin pada 25 Juli sempat diperdagangkan di kisaran US$63.956, menandai penurunan sebesar 2,49%. Volume perdagangan hariannya berkisar US$22,84 miliar. Pergerakan harga Bitcoin kali ini kembali menegaskan korelasi yang kuat dengan pergerakan saham teknologi. Ketika investor mulai mengurangi eksposur terhadap sektor teknologi akibat kekhawatiran belanja AI, Bitcoin ikut terdampak sebagai salah satu aset berisiko.
Bitcoin Hadapi Tantangan Teknis dan Institusional
Secara teknikal, Bitcoin masih bergulat dengan resistance kuat di area 200-week Exponential Moving Average (EMA), yang berada di kisaran US$68.284. Aset kripto andalan ini belum mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut sejak awal Juni. Indikator histogram volume yang kembali berwarna merah mengindikasikan peningkatan tekanan jual. Hal ini diduga merupakan aksi profit-taking setelah Bitcoin sempat mencatatkan kenaikan ke area US$66.900 pada 21 Juli.
Selama Bitcoin belum berhasil menutup harga di atas 200-week EMA, peluang untuk melanjutkan tren naik yang lebih kuat masih tertahan. Level ini menjadi penentu krusial untuk mengonfirmasi apakah Bitcoin mampu keluar dari tekanan jangka menengah. Indikator Relative Strength Index (RSI) yang berada di sekitar 39 menunjukkan momentum yang masih cenderung bearish. Namun, ada sedikit sinyal positif di mana RSI mulai membentuk higher low, yang bisa menjadi indikasi awal melemahnya tekanan jual dari para bear.
Jika Bitcoin gagal menembus resistance 200-week EMA dan tekanan jual terus mendominasi, ada risiko harga akan kembali tertekan menuju level support psikologis di US$60.000. Situasi ini diperparah oleh melemahnya permintaan institusional terhadap Bitcoin. Data terbaru menunjukkan bahwa ETF Bitcoin spot hanya mencatat inflow sebesar US$33 juta pada periode 20–24 Juli, angka inflow mingguan terendah dalam tiga minggu terakhir.
Pelemahan minat terhadap ETF Bitcoin ini terjadi bertepatan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury yang mencapai 4,71%, level tertinggi sejak Januari 2025. Fenomena ini mendorong investor untuk beralih dari aset berisiko seperti Bitcoin ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman namun tetap menawarkan imbal hasil yang menarik, seperti obligasi pemerintah AS.
Kombinasi dari kekhawatiran belanja AI yang menekan saham teknologi, potensi kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta melemahnya inflow ETF Bitcoin, menciptakan prospek jangka pendek yang cukup menantang bagi mata uang kripto ini. Untuk memulihkan momentumnya, Bitcoin perlu kembali menembus area US$68.284 dan didukung oleh volume beli yang kuat. Namun, jika tekanan dari pasar saham, obligasi, dan institusional terus berlanjut, Bitcoin berisiko menguji kembali area US$60.000 dalam waktu dekat. Outlook Bitcoin saat ini masih cenderung hati-hati, dengan sentimen makro dari pasar saham teknologi dan obligasi menjadi faktor utama yang perlu dipantau ketat, selain kemampuan Bitcoin mempertahankan level support penting di tengah kondisi permintaan institusional yang melemah.







