Ethereum di Ambang Perubahan Fundamental: Adopsi Desain Bitcoin untuk Skalabilitas
Poros Informasi – 18 Agustus 2026 | Co-founder Ethereum, Vitalik Buterin, mengemukakan gagasan revolusioner untuk mengatasi salah satu tantangan terbesar jaringan Ethereum: skalabilitas. Dalam sebuah pernyataan yang menarik perhatian komunitas kripto global, Buterin menyatakan keinginannya untuk mengadopsi desain fundamental Bitcoin guna menyederhanakan cara Ethereum memproses pembayaran sederhana. Inisiatif ini, yang berfokus pada model Unspent Transaction Output (UTXO), bertujuan untuk meringankan beban state jaringan yang terus membengkak, sebuah masalah yang telah lama menghantui Ethereum.
Mengapa Ethereum Semakin Berat? Memahami Masalah State
Ethereum saat ini beroperasi dengan ribuan node yang menyimpan salinan data jaringan. Tantangan utama yang dihadapi adalah ‘account state’, yaitu catatan akun dan saldo yang terus bertambah seiring waktu. Dalam model Ethereum saat ini, setiap akun yang pernah dibuat, bahkan yang hanya digunakan sekali, akan tetap tersimpan dalam state jaringan secara permanen. Hal ini menambah beban penyimpanan yang signifikan, membuat pengoperasian node menjadi semakin berat dan mahal. Akibatnya, kebutuhan akan perangkat keras yang lebih canggih untuk menjalankan node terus meningkat, yang berpotensi mengarah pada sentralisasi jaringan.
Solusi ala Bitcoin: Model UTXO untuk Efisiensi Transaksi
Berbeda dengan Ethereum, Bitcoin tidak menyimpan akun dalam pengertian tradisional. Jaringan Bitcoin melacak ‘unspent transaction output’ (UTXO), yaitu unit mata uang digital yang belum dibelanjakan. Setelah UTXO dikonsumsi dalam sebuah transaksi, statusnya dianggap selesai dan tidak perlu terus menerus berada dalam ‘active state’ seperti akun Ethereum. Model ini secara inheren lebih efisien dalam hal penyimpanan data untuk transaksi sederhana. Dengan mengadopsi konsep UTXO, Ethereum berharap dapat mereplikasi efisiensi ini untuk jenis transaksi tertentu.
Proposal ‘Native UTXOs on Ethereum’, yang diajukan oleh peneliti Ethereum Foundation, Toni Wahrstätter, pada Juli 2026, menguraikan bagaimana pembayaran sederhana dapat dibuat lebih mirip dengan cara kerja Bitcoin. Dalam model ini, uang direpresentasikan sebagai output yang dapat dibelanjakan satu kali. Setelah dibelanjakan, hanya jejak minimal yang perlu dipertahankan untuk mencegah pengeluaran ganda (double spending). Pendekatan ini secara teoritis dapat memangkas beban penyimpanan untuk pembayaran sederhana secara signifikan.
Vitalik Buterin Ingin Adopsi Desain Bitcoin untuk Skalakan Ethereum: Kombinasi Kekuatan
Penting untuk dicatat bahwa adopsi model UTXO ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan seluruh sistem akun dan smart contract Ethereum. Ethereum akan tetap membutuhkan model akun yang ada untuk mendukung aplikasi kompleks, Decentralized Finance (DeFi), Non-Fungible Tokens (NFTs), dan berbagai smart contract lainnya yang menjadi kekuatan utama jaringan tersebut. Namun, untuk transaksi pembayaran sederhana yang tidak memerlukan logika smart contract yang rumit, model UTXO dapat menjadi opsi yang jauh lebih efisien. Vitalik Buterin sendiri mengakui pentingnya inovasi dari komunitas Bitcoin, seperti Utreexo, yang memungkinkan verifikasi koin tanpa perlu menyimpan seluruh daftar UTXO secara penuh.
Dalam sebuah cuitan yang mengomentari strategi penskalaan Ethereum saat ini, Buterin menyatakan, “Bitcoiners deserve a lot of credit for pioneering many of these ideas (see Utreexo). But yes, this is what the current proposed Ethereum scaling strategy looks like in action. We want Ethereum to have the best of UTXO-style state, dynamic state, and everything in between,”. Hal ini menegaskan bahwa filosofi di balik proposal ini adalah menggabungkan keunggulan model UTXO dari Bitcoin dengan fleksibilitas dinamis yang ditawarkan Ethereum.
Utreexo dan STARK: Memperkuat Arsitektur Penskalaan
Dukungan Buterin juga menyoroti potensi kombinasi model UTXO dengan teknologi bukti kriptografi canggih seperti STARK (Scalable Transparent ARguments of Knowledge). Ethereum Foundation menjelaskan bahwa dalam roadmap ‘statelessness’, validator dapat memverifikasi zero-knowledge proof untuk memastikan eksekusi blok yang benar tanpa harus mengeksekusi ulang semua transaksi secara langsung. Dengan menggabungkan UTXO untuk pembayaran sederhana dan STARK untuk pembuktian eksekusi, Ethereum berpotensi meningkatkan kapasitas transaksinya secara drastis tanpa membuat node semakin berat.
Perdebatan dan Dampak Jangka Panjang
Ide membawa UTXO ke Ethereum tidak luput dari perdebatan. Charles Hoskinson, pendiri Cardano, sempat menuduh Ethereum meniru model extended UTXO (EUTXO) yang sudah digunakan Cardano. Namun, proposal Ethereum lebih banyak merujuk pada model UTXO Bitcoin untuk mengurangi beban state pada pembayaran sederhana. Perdebatan ini justru menunjukkan bahwa inovasi dalam desain blockchain seringkali bersifat evolusioner, di mana berbagai jaringan saling mengambil inspirasi dan menyesuaikannya.
Secara teknis, jika proposal ini berhasil diimplementasikan, pembayaran sederhana di Ethereum bisa menjadi jauh lebih ringan, node lebih mudah dijalankan, dan beban state jangka panjang dapat ditekan. Hal ini merupakan langkah krusial menuju ‘hyperscale’ Ethereum. Namun, dampak langsung terhadap harga ETH masih belum terlihat jelas. Pasar tampaknya masih menunggu kejelasan roadmap implementasi dan bukti nyata efektivitasnya sebelum memberikan premi. Proposal ini menjadi sinyal kuat bahwa Ethereum terus berinovasi pada level protokol untuk menyelesaikan masalah fundamental skalabilitasnya, melengkapi upaya solusi layer-2 yang sudah ada.
Vitalik Buterin ingin adopsi desain Bitcoin untuk skalakan Ethereum, sebuah langkah strategis yang menunjukkan komitmen berkelanjutan untuk menyempurnakan arsitektur dasar jaringan. Dengan menggabungkan efisiensi UTXO untuk transaksi dasar dan mempertahankan fleksibilitas smart contract, Ethereum berupaya menciptakan ekosistem yang lebih seimbang antara kecepatan, biaya, dan kemampuan.







