Vitalik Buterin Ungkap Rahasia Bitcoin Bisa Skalakan Ethereum!

Usman

Poros Informasi – Sebuah gagasan revolusioner tengah mengemuka di ranah Ethereum, dan datang langsung dari sang co-founder, Vitalik Buterin. Ia secara terbuka mendukung rencana untuk mengadopsi konsep fundamental yang telah lama menjadi tulang punggung Bitcoin: model UTXO (Unspent Transaction Output). Ide ini bukan sekadar peniruan, melainkan strategi cerdas untuk mengatasi salah satu tantangan terbesar Ethereum, yakni pembengkakan "state" jaringan yang kian membebani node. Tim riset porosinformasi.co.id menilai proposal ini muncul sebagai respons krusial terhadap masalah pertumbuhan state yang membuat operasional node semakin berat.

"Dalam model saat ini, setiap akun Ethereum yang pernah dibuat akan tetap tersimpan dalam state jaringan, meskipun akun tersebut tidak lagi aktif," ungkap seorang peneliti. Ethereum Foundation sendiri telah lama menyoroti "statelessness" sebagai pilar penting dalam peta jalan teknis Ethereum. Perubahan fundamental dalam cara node menangani state diharapkan dapat menjaga jaringan tetap ringan dan mudah diverifikasi, sebuah langkah vital menuju desentralisasi yang berkelanjutan.

Vitalik Buterin Ungkap Rahasia Bitcoin Bisa Skalakan Ethereum!
Gambar Istimewa : news.tokocrypto.com

Mengapa Ethereum Kian Membengkak?

Ethereum, sebagai tulang punggung ribuan aplikasi terdesentralisasi, dioperasikan oleh ribuan node yang menyimpan salinan lengkap data jaringannya. Namun, seiring waktu, salah satu tantangan terbesarnya adalah "account state"—catatan akun dan saldo yang terus bertambah tanpa henti.

Beban Akun Ethereum vs. Efisiensi UTXO Bitcoin

Dalam arsitektur akun Ethereum saat ini, setiap akun baru yang tercipta menambah beban penyimpanan permanen. Entri akun ini bisa tetap berada dalam state jaringan selamanya, bahkan jika hanya digunakan sekali. Bayangkan sebuah lemari arsip yang terus bertambah tanpa pernah ada dokumen yang dibuang, meskipun sudah tidak relevan.

Situasi ini sangat kontras dengan Bitcoin. Jaringan Bitcoin tidak menyimpan "akun" dalam pengertian Ethereum. Sebaliknya, Bitcoin melacak UTXO, yaitu output transaksi yang belum dibelanjakan. Begitu sebuah UTXO digunakan, statusnya dianggap selesai dan tidak perlu lagi dipertahankan dalam "active state" seperti akun Ethereum. Oleh karena itu, pertumbuhan state Ethereum menjadi hambatan signifikan untuk menjaga node tetap ringan dan mudah dijalankan oleh pengguna biasa. Jika persyaratan perangkat keras untuk menjalankan node terus meningkat, risiko sentralisasi pun ikut merangkak naik, mengancam filosofi inti blockchain.

Solusi ‘Native UTXO’ untuk Ethereum

Menyadari urgensi masalah ini, peneliti dari Ethereum Foundation, Toni Wahrstätter, telah mengajukan proposal "native UTXOs on Ethereum" yang direncanakan pada Juli 2026. Proposal ini menguraikan model pembayaran yang memanfaatkan UTXO untuk mengurangi "permanent state." Intinya, menerima atau melakukan pembayaran sederhana tidak harus menambah beban state jaringan secara permanen.

Mengapa Desain Bitcoin Relevan?

Dalam proposal tersebut, pembayaran sederhana dapat dibuat lebih mirip dengan mekanisme Bitcoin. Uang direpresentasikan sebagai output yang dapat dibelanjakan satu kali. Setelah dibelanjakan, hanya jejak minimal yang perlu dipertahankan untuk mencegah pengeluaran ganda (double spending). Ethereum Foundation Protocol Prototyping juga mencatat proposal ini sebagai rancangan lapisan eksekusi yang menggunakan "EIP-8141 frame transactions" untuk mengurangi permanent state dengan menyimpan "spent bits" dan membuktikan keberadaan UTXO dari riwayat transaksi.

Secara teoritis, pendekatan ini dapat memangkas beban penyimpanan untuk pembayaran sederhana secara drastis. Jika model akun biasa membutuhkan ruang besar untuk setiap akun yang pernah dibuat, model UTXO dapat mengurangi jejak permanen setelah output dibelanjakan, menjadikannya lebih efisien. Seperti yang dilaporkan BeInCrypto, Bitcoin telah menggunakan model UTXO sejak awal karena kesederhanaannya untuk pembayaran: setiap transaksi mengonsumsi output lama dan menciptakan output baru. Setelah output dibelanjakan, jaringan hanya perlu memastikan output tersebut tidak digunakan lagi.

Penting untuk digarisbawahi, desain ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan seluruh sistem akun dan smart contract Ethereum. Ethereum tetap membutuhkan model akun yang fleksibel untuk aplikasi kompleks, DeFi, NFT, dan smart contract. Namun, untuk pembayaran sederhana yang tidak membutuhkan logika smart contract yang rumit, UTXO dapat menjadi opsi yang jauh lebih efisien. Inilah daya tarik utama ide ini: Ethereum dapat mempertahankan fleksibilitas smart contract-nya, sambil menyediakan jalur transaksi sederhana yang lebih hemat state untuk aktivitas pembayaran sehari-hari.

Respons Vitalik: Utreexo dan STARK sebagai Pelengkap

Vitalik Buterin sendiri menyoroti Utreexo, sebuah proyek dari ekosistem Bitcoin yang memungkinkan verifikasi koin tanpa perlu menyimpan seluruh daftar UTXO secara penuh. MIT Digital Currency Initiative menjelaskan Utreexo sebagai desain scaling Bitcoin yang bertujuan membuat proses verifikasi lebih kecil dan efisien.

Dalam konteks Ethereum, pendekatan serupa dapat dikombinasikan dengan bukti kriptografi canggih seperti STARK. Ethereum.org menjelaskan bahwa dalam roadmap statelessness, validator dapat memverifikasi "zero-knowledge proof" untuk memastikan eksekusi blok yang benar tanpa harus mengeksekusi ulang semua transaksi secara langsung. Jika digabungkan, UTXO untuk pembayaran sederhana dan STARK untuk bukti eksekusi dapat membantu Ethereum memproses lebih banyak transaksi tanpa membuat node semakin berat. Buterin menyatakan, "Bitcoiners deserve a lot of credit for pioneering many of these ideas (see Utreexo). But yes, this is what the current proposed Ethereum scaling strategy looks like in action. We want Ethereum to have the best of UTXO-style state, dynamic state, and everything in between."

Namun, proposal ini masih berada di tahap riset awal. Belum ada tanggal implementasi pasti, dan keputusan akhir akan sangat bergantung pada pengembang client, komunitas, serta proses standar Ethereum.

Kontroversi dan Perdebatan: Mirip Cardano?

Ide membawa UTXO ke Ethereum tidak luput dari perdebatan. Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, bahkan menuduh Ethereum meniru model yang sudah digunakan Cardano melalui "extended UTXO" atau EUTXO. Namun, proposal Ethereum lebih banyak merujuk pada model UTXO Bitcoin untuk mengurangi beban state pembayaran sederhana. TokenPost mencatat bahwa proposal Toni Wahrstätter memang terinspirasi dari model UTXO Bitcoin, meskipun memicu klaim dari Hoskinson bahwa Ethereum mengadopsi ide yang mirip dengan Cardano.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa desain blockchain tidak selalu berkembang secara terpisah. Banyak jaringan mengambil inspirasi dari pendekatan yang terbukti efektif, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan spesifik masing-masing. Dalam kasus Ethereum, tantangannya adalah bagaimana menggabungkan efisiensi UTXO dengan kompleksitas smart contract yang menjadi kekuatan utama jaringan tersebut. Seperti yang diungkapkan NaoX | Post-Quantum Chain (@NaoXprotocol) di Twitter, "Utreexo works cleanly because UTXOs never mutate. Ethereum’s challenge is mutable storage slots updating constantly. State expiry for accounts is a fundamentally harder problem. How does this proposal handle that gap compared to the UTXO commitment model?" Ini menunjukkan kompleksitas yang harus dipecahkan oleh para peneliti Ethereum.

Implikasi Jangka Panjang, Pasar Masih Menanti

Secara teknis, proposal ini berpotensi menjadi bagian penting dari upaya "hyperscale" Ethereum. Jika berhasil diterapkan, pembayaran sederhana dapat menjadi lebih ringan, node lebih mudah dijalankan, dan beban state jangka panjang dapat ditekan secara signifikan.

Namun, dampaknya terhadap harga ETH belum langsung terlihat. Materi sumber mencatat ETH masih diperdagangkan di sekitar US$1.900 dan belum mampu bertahan di atas US$2.000 dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar belum sepenuhnya memberi premi terhadap riset teknis Ethereum. Investor kemungkinan masih menunggu kejelasan implementasi, linimasa peningkatan, dan dampak nyata terhadap penggunaan jaringan. Untuk saat ini, proposal UTXO menjadi sinyal kuat bahwa Ethereum masih berupaya menyelesaikan masalah fundamental pada level protokol, bukan hanya mengandalkan solusi Layer-2.

Secara keseluruhan, dukungan Vitalik Buterin terhadap desain UTXO ala Bitcoin menunjukkan arah baru dalam riset scaling Ethereum. Tujuannya bukan mengubah Ethereum menjadi Bitcoin, melainkan mengambil elemen desain yang efisien untuk mengurangi beban state. Jika proposal ini diadopsi, Ethereum dapat memiliki dua jalur yang saling melengkapi: model akun tetap digunakan untuk smart contract kompleks, sementara model UTXO digunakan untuk pembayaran sederhana yang lebih ringan.

Namun, jalan menuju implementasi masih panjang. Proposal perlu diuji, diperdebatkan, dan diterjemahkan ke dalam perubahan client sebelum dapat masuk ke jaringan utama. Untuk jangka panjang, keberhasilan ide ini dapat membantu Ethereum menjaga desentralisasi node sambil meningkatkan kapasitas transaksi. Namun, sampai ada roadmap implementasi yang lebih jelas, pasar kemungkinan masih melihatnya sebagai perkembangan riset penting, bukan katalis harga langsung bagi ETH.


DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset, dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar