<strong>Poros Informasi – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperluas inklusi keuangan nasional melalui program pembukaan rekening bank massal. Kebijakan ambisius ini diproyeksikan akan menyasar sekitar 25,1 juta penduduk yang berada dalam kelompok ekonomi rentan. Program ini direncanakan mulai diimplementasikan secara penuh pada November 2026 mendatang.
Langkah ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah dalam mendorong masyarakat kelas bawah agar lebih akrab dengan sistem perbankan formal, guna memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga di masa depan.

Target Utama: Masyarakat Desil 1 hingga Desil 4
Fokus utama dari kebijakan ini bukan pada masyarakat umum, melainkan pada kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan rendah. Pemerintah telah menetapkan parameter spesifik untuk memastikan bantuan dan akses keuangan ini tepat sasaran.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, mengungkapkan bahwa sasaran utama program ini adalah penduduk yang masuk dalam kategori desil 1 hingga desil 4.
"Target kita prioritas sekarang di desil 1 sampai desil 4, sekitar 25,1 juta penduduk kita yang akan ditargetkan untuk pembukaan rekening. Usianya di atas 17 tahun," ujar Ferry saat memberikan keterangan di sela-sela acara ISEF di JICC Senayan, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Skema Saldo Awal dan Kemudahan Akses
Untuk meringankan beban masyarakat, pemerintah merancang skema pembukaan rekening dengan biaya yang sangat terjangkau. Salah satu poin penting dalam rencana ini adalah penetapan saldo awal yang minimal, yakni hanya sebesar Rp50.000.
Hal ini diharapkan dapat memecah hambatan psikologis maupun finansial yang selama ini membuat masyarakat berpendapatan rendah enggan menyentuh layanan perbankan. Dengan nominal yang kecil, akses terhadap instrumen keuangan formal menjadi lebih inklusif bagi mereka yang berada di garis ekonomi bawah.
Persiapan Teknis Menuju November 2026
Meskipun target pelaksanaannya masih tersisa waktu hingga akhir tahun depan, pemerintah menegaskan bahwa seluruh persiapan teknis saat ini sedang dalam tahap penyelesaian intensif. Koordinasi antarlembaga terus diperkuat untuk memastikan infrastruktur perbankan siap menampung lonjakan pembukaan rekening secara masif.
Ferry menambahkan bahwa linimasa tahun 2026 telah ditetapkan sebagai momentum peluncuran program ini. "2026 kita harapkan bisa jalan. Karena memang kita siapkan untuk 2026. Jadi, sekarang sudah Oktober. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera jalan. Iya (November)," pungkasnya.
Dengan adanya program ini, diharapkan angka inklusi keuangan di Indonesia dapat meningkat signifikan, yang pada akhirnya akan membantu pemerintah dalam menyalurkan bantuan sosial secara lebih transparan, cepat, dan akurat melalui sistem digital perbankan.






