Poros Informasi – Jakarta – Malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 diwarnai dengan kabar gembira bagi jutaan keluarga di Indonesia. Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) sebesar Rp900.000 tuntas dilaksanakan hingga detik-detik terakhir tahun 2025, sebagaimana dilaporkan pada Kamis, 1 Januari 2026. Program ini, yang menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat jaring pengaman sosial, membawa senyum lega dan angin segar di tengah tantangan ekonomi bagi para penerimanya.
Senyum Harapan di Malam Pergantian Tahun

Salah satu penerima manfaat yang merasakan langsung dampak positif BLTS adalah Sobari (69), seorang penyedia jasa cat duco dari Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Dengan nada syukur, Sobari mengungkapkan betapa bantuan tersebut sangat berarti baginya. “Tadi dapat uang Rp900 ribu, Alhamdulillah rezeki. Apalagi konsumen kalau musim begini jarang perbaiki kendaraan,” kata Sobari. Pernyataan ini mencerminkan realitas banyak pekerja informal yang merasakan fluktuasi pendapatan, menjadikan bantuan tunai ini sangat vital untuk menopang kebutuhan sehari-hari, terutama di masa-masa sepi pekerjaan.
Strategi Ekonomi di Balik Gelontoran Dana Jumbo
Peningkatan Signifikan Alokasi Anggaran
Pemerintah pada tahun 2025 memang menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat jaring pengaman sosial dan memberikan stimulus ekonomi. Alokasi anggaran bantuan sosial ditingkatkan secara masif. Data menunjukkan bahwa jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) BLTS diperluas secara drastis, dari semula 18 juta KPM menjadi sekitar 35 juta KPM. Imbasnya, total anggaran yang digelontorkan untuk program ini melonjak signifikan, dari sekitar Rp74 triliun menjadi lebih dari Rp110 triliun. Langkah ini dipandang sebagai injeksi dana yang krusial untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat dan menggerakkan roda perekonomian dari level akar rumput.
Harapan Pemerintah untuk Dampak Jangka Panjang
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa perluasan bantuan ini bukan sekadar pemberian dana, melainkan bagian dari strategi ekonomi makro yang lebih luas. “Kami berharap perluasan bantuan ini dapat membantu meningkatkan daya beli masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mempercepat graduasi keluarga penerima manfaat menuju kemandirian dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial,” ujar Gus Ipul. Visi ini menyoroti upaya pemerintah untuk tidak hanya memberikan bantuan sementara, tetapi juga menciptakan fondasi bagi kemandirian ekonomi jangka panjang, mengurangi ketergantungan pada bantuan sosial, dan pada akhirnya, mendorong inklusi ekonomi yang lebih merata.
Dengan demikian, penyaluran BLTS di penghujung tahun 2025 bukan hanya menjadi penutup tahun yang manis bagi jutaan keluarga, tetapi juga menjadi cerminan dari kebijakan pemerintah yang berupaya mengintegrasikan program sosial dengan tujuan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dampak riilnya diharapkan akan terasa pada pergerakan ekonomi mikro dan makro di awal tahun 2026, memberikan dorongan positif bagi sektor konsumsi dan produktivitas masyarakat.






