Poros Informasi – Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 diproyeksikan akan menjadi motor penggerak ekonomi yang signifikan, dengan estimasi perputaran uang yang menembus angka fantastis, lebih dari Rp9 triliun. Angka ini tidak hanya mencerminkan semaraknya tradisi, tetapi juga berpotensi memberikan dorongan substansial bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Prediksi optimis ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, yang melihat momentum libur panjang Imlek sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan konsumsi domestik dan menggerakkan sektor riil.
Proyeksi Perputaran Uang: Stimulus Ekonomi Imlek 2026

Sarman Simanjorang menjelaskan bahwa perhitungan perputaran uang sebesar Rp9 triliun lebih ini didasarkan pada serangkaian aktivitas ekonomi yang lazim terjadi selama periode Imlek. Dari tradisi berbagi angpao hingga lonjakan aktivitas perjalanan dan belanja, setiap komponen memberikan kontribusi signifikan terhadap total estimasi.
"Perputaran uang selama libur Imlek 2026 akan memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Sarman, menekankan peran penting perayaan ini sebagai stimulus ekonomi tahunan yang mampu mengalirkan likuiditas ke berbagai lapisan masyarakat dan pelaku usaha.
Rincian Angka: Dari Angpao hingga Perjalanan Wisata
Analisis Kadin Indonesia menguraikan secara detail bagaimana angka Rp9 triliun tersebut terbentuk. Pertama, dari populasi warga Indonesia keturunan Tionghoa yang mencapai sekitar 11,25 juta jiwa. Dengan asumsi rata-rata satu keluarga terdiri dari empat orang, terdapat sekitar 2.812.500 keluarga yang merayakan Imlek. Tradisi makan malam bersama dengan aneka hidangan khas serta pemberian angpao kepada keluarga, kerabat, dan tamu diperkirakan menjadi penyumbang utama.
"Apabila setiap keluarga mengalokasikan rata-rata Rp1 juta untuk perayaan ini, maka potensi perputaran uang dari segmen ini saja sudah mencapai sekitar Rp2,81 triliun," jelas Sarman dalam keterangan resminya, yang diterima Poros Informasi pada Selasa (17/2/2026).
Selain itu, sektor pariwisata dan perjalanan juga diperkirakan akan mengalami lonjakan signifikan. Diperkirakan 3.369.820 orang akan melakukan perjalanan wisata maupun ziarah. Dengan asumsi pengeluaran rata-rata Rp500 ribu per individu, potensi transaksi dari aktivitas ini mencapai sekitar Rp1,68 triliun.
Sektor transportasi juga tak kalah bergairah. Untuk transportasi udara, diprediksi 1.744.820 penumpang akan bepergian, dengan rata-rata pengeluaran Rp1 juta per orang, menghasilkan potensi transaksi sekitar Rp1,74 triliun. Kereta api juga diperkirakan mengangkut 1 juta penumpang, dengan rata-rata harga tiket Rp150 ribu, menyumbang Rp150 miliar. Bahkan, kereta cepat Whoosh diproyeksikan melayani 25 ribu penumpang dengan rata-rata tiket Rp250 ribu, menambah perputaran uang sekitar Rp6,25 miliar.
Sektor Ritel: Penopang Utama Konsumsi
Tidak ketinggalan, sektor ritel menjadi salah satu penopang utama peningkatan konsumsi. Berdasarkan data dari Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), target transaksi selama periode Imlek hingga Ramadan dan Idulfitri mencapai Rp53,38 triliun. Jika diasumsikan lima persen dari angka tersebut terealisasi selama libur Imlek, maka potensi transaksi ritel pada periode ini mencapai sekitar Rp2,669 triliun.
"Dengan demikian, total estimasi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 secara komprehensif diperkirakan akan melampaui Rp9,06 triliun," pungkas Sarman.
Lebih dari Sekadar Angka: Dampak Nyata bagi Perekonomian Nasional
Angka Rp9 triliun lebih ini merupakan estimasi konservatif, mengingat belum termasuk pengeluaran untuk biaya tol, bahan bakar kendaraan pribadi, serta transportasi laut dan penyeberangan yang juga akan mengalami peningkatan signifikan. Ini mengindikasikan bahwa dampak ekonomi riil bisa jadi jauh lebih besar dari proyeksi awal.
Peningkatan perputaran uang ini akan mengalir ke berbagai sektor riil, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri makanan dan minuman, akomodasi, hingga jasa transportasi. Lonjakan konsumsi domestik ini diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di awal tahun 2026, memperkuat daya beli masyarakat, dan menciptakan efek berganda yang positif di seluruh rantai pasok ekonomi. Perayaan Imlek, dengan segala tradisi dan aktivitas ekonominya, sekali lagi membuktikan diri sebagai salah satu pendorong vital bagi denyut nadi perekonomian nasional, memberikan optimisme di tengah tantangan global.






