Poros Informasi – Indonesia tengah bersiap mengoptimalkan potensi sumber daya alamnya yang luar biasa dalam sektor energi terbarukan. Dengan estimasi ketersediaan biomassa yang menembus angka 83,4 juta ton per tahun, pemerintah dan pelaku industri kini tengah memacu penguatan ekosistem bioenergi nasional guna mempercepat transisi menuju energi rendah karbon.
Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga ketahanan energi nasional, tetapi juga untuk membangun rantai pasok yang tangguh melalui diversifikasi produk bioenergi yang lebih luas.

Strategi PLN EPI Perluas Portofolio Bioenergi
Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Hokkop Situngkir, menegaskan bahwa Indonesia berada di posisi yang sangat menguntungkan. Besarnya potensi biomassa yang tersedia harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan pengembangan produk yang variatif.
"Indonesia memiliki potensi dan kebutuhan bioenergi yang sangat besar," ujar Hokkop dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Selama ini, pemanfaatan biomassa banyak difokuskan pada program cofiring di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara. Namun, PLN EPI tidak berhenti di situ. Perusahaan kini tengah membidik peluang pada produk-produk turunan yang lebih canggih.
Diversifikasi Produk: Dari Biochar hingga Biohidrogen
Untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya domestik, PLN EPI tengah melakukan ekspansi portofolio ke berbagai sektor teknologi hijau. Beberapa produk yang menjadi target pengembangan meliputi:
- Biochar: Untuk peningkatan kualitas tanah dan penyimpanan karbon.
- Syngas (Synthetic Gas): Sebagai bahan bakar alternatif yang lebih bersih.
- Compressed Biomethane Gas (CBG): Solusi gas berbasis organik.
- Biohidrogen: Teknologi energi masa depan yang sangat rendah emisi.
Diversifikasi ini diharapkan mampu menciptakan peluang bisnis baru di sektor energi sekaligus memberikan nilai ekonomi lebih tinggi bagi masyarakat dan negara.
Membangun Ekosistem dan Menciptakan Pasar
Tantangan utama dalam pengembangan energi terbarukan seringkali terletak pada ketersediaan pasokan yang stabil. Menanggapi hal tersebut, Hokkop menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membangun fasilitas produksi yang mumpuni.
Ia menambahkan bahwa membangun ekosistem bukan sekadar soal menyediakan barang, melainkan juga soal menciptakan permintaan pasar. "Kita perlu memperluas kolaborasi untuk mengembangkan fasilitas produksi dan membangun ekosistem yang mampu menyalurkan biomassa kepada pembangkit. Bahkan, ketika kebutuhan pasar belum tersedia, kita juga memiliki peluang untuk menciptakan kebutuhan tersebut," pungkasnya.
Dengan penguatan ekosistem ini, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi konsumen teknologi hijau, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam industri bioenergi global melalui pemanfaatan kekayaan alam yang berkelanjutan.






