Rupiah di Bawah Harga Wajar? Gubernur BI Ungkap Potensi Sebenarnya!

Renita

Rupiah di Bawah Harga Wajar? Gubernur BI Ungkap Potensi Sebenarnya!

Poros Informasi – Bank Indonesia (BI) secara terbuka mengakui bahwa nilai tukar rupiah saat ini diperdagangkan di bawah nilai fundamentalnya, atau undervalued. Meskipun sempat menyentuh level Rp16.880 per dolar AS pada 18 Februari 2026, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan keyakinannya terhadap kekuatan intrinsik mata uang Garuda untuk kembali menguat. Pernyataan ini disampaikan Perry dalam konferensi pers RDG BI di Jakarta, Kamis (19/2/2026), menanggapi fluktuasi nilai tukar yang menjadi perhatian pasar.

Perry menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh adanya diskrepansi antara kondisi ekonomi riil Indonesia yang solid dengan pergerakan teknikal di pasar keuangan global. Sentimen ketidakpastian global menjadi pemicu utama yang mempengaruhi persepsi risiko dan pergerakan jangka pendek nilai tukar.

Rupiah di Bawah Harga Wajar? Gubernur BI Ungkap Potensi Sebenarnya!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Analisis Bank Indonesia: Rupiah di Bawah Nilai Fundamental

Dalam pandangan Bank Indonesia, pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh dua faktor utama: fundamental dan teknikal. Faktor fundamental, yang mencerminkan kesehatan ekonomi suatu negara, menunjukkan bahwa rupiah seharusnya berada pada posisi yang lebih stabil dan cenderung menguat. Namun, dinamika pasar keuangan global yang sarat ketidakpastian kerap menciptakan tekanan yang tidak sepenuhnya merefleksikan kondisi fundamental tersebut.

Faktor-faktor Penentu Kekuatan Rupiah

Perry merinci bahwa indikator-indikator fundamental ekonomi Indonesia, seperti tingkat inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta imbal hasil investasi yang menarik, secara kolektif menunjukkan bahwa rupiah seharusnya lebih stabil dan memiliki kecenderungan untuk menguat. Ini adalah cerminan dari fundamental ekonomi domestik yang kokoh, yang seringkali tidak sepenuhnya tercermin dalam fluktuasi jangka pendek di pasar valuta asing.

"Kalau kita lihat pergerakan nilai tukar ada dua faktor utama yang berpengaruh, yaitu faktor fundamental dan faktor teknikal," ujar Perry. Ia menambahkan, "indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil maupun juga indikator-indikator lain yang semuanya menunjukkan berbagai faktor-faktor fundamental itu menunjukkan rupiah mestinya akan lebih stabil dan cenderung menguat."

Tekanan Jangka Pendek dan Prospek Pemulihan

Pelemahan rupiah sebesar 0,56 persen dibandingkan akhir Januari 2026, jelas Perry, utamanya disebabkan oleh dua faktor. Pertama, tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global yang memicu risk-off sentiment, mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman seperti dolar AS. Kedua, peningkatan permintaan valuta asing dari korporasi domestik seiring dengan akselerasi aktivitas ekonomi dalam negeri, yang membutuhkan valas untuk transaksi impor atau pembayaran utang luar negeri.

Strategi BI Menjaga Stabilitas

Faktor teknikal dan premi risiko global inilah yang, menurut BI, menjadi pemicu tekanan jangka pendek. Namun, Bank Indonesia tetap optimistis bahwa tren ini akan berbalik arah. Perry Warjiyo meyakini bahwa dengan fundamental ekonomi yang kuat, nilai tukar rupiah akan kembali menemukan keseimbangannya dan bergerak menuju nilai wajarnya.

"Pertanyaannya tentu saja faktor-faktor teknikal, faktor-faktor premi risiko yang khususnya terjadi di global memang kelihatan faktor-faktor ini yang memang menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar. Dengan keyakinan ke depan nilai tukarnya akan stabil dan cenderung menguat mengarah kepada fundamental," tegas Perry. Optimisme BI ini memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar dan investor, bahwa gejolak nilai tukar yang terjadi saat ini merupakan dinamika pasar jangka pendek yang tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya. BI akan terus memantau dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Baca Juga

Ikuti Kami

Tags

Tinggalkan komentar